01/15/2009

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS MATEMATIKA

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP 1 MELALUI PENERAPAN CONTOH SOAL BERJENJANG DAN SOLUSI ARGUMENTATIF BERBANTUAN LKS SCAFOLLDING


ABSTRAK

Bermula dari rendahnya semangat, aktivitas, dan prestasi belajar matematika siswa kelas VII C2 SMP Negeri 1 dari beberapa tahun terakhir, sebagai dampak pembagian kelas dengan sistem rangking, pada tahun ajaran 2007/2008 peneliti mencoba melakukan penelitian dengan menerapkan contoh-contoh soal secara berjenjang yang dilengkapi solusi argumentatif berbantuam LKS scafollding dalam pengajaran matematika di kelas. Penelitian tindakan ini bertujuan: (1) untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dengan penerapan contoh soal berjenjang dan proses penyelesaian argumentatif berbantuan LKS scafollding, dan (2)untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan penerapan contoh soal berjenjang dan proses penyelesaian argumentatif berbantuan LKS scafollding.
Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus, dengan mengacu pada tiga pokok bahasan, yaitu: Bilangan, Bentuk Aljabar, dan Persamaan & Pertidaksamaan. Proses pemberian tindakan di kelas mengikuti langkah-lamgkah pembelajaran sebagai berikut: (1) guru memperbaiki miskonsepsi yang mungkin terjadi sebelumnya, kemudian dilanjutkan dengan materi prasyarat dari pokok bahasan yang akan dibicarakan (± 5 menit), (2) guru memberi informasi tentang tujuan pembelajaran hari itu serta penjelasan singkat tentang langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan (± 5 menit), (3) dibentuk kelompok-kelompok kecil, yang terdiri atas 4-5 orang tiap kelompok(± 1 menit), (4) guru membagikan LKS scafollding, yang di dalamnya mengandung penjelasan materi (secara singkat), beberapa contoh soal (dengan tingkat kesulitan dan kompleksitas secara berjenjang), solusi argumentatif, serta soal-soal sebagai bahan latihan (yang semakin ke belakang semakin dilenyapkan unsur bimbingannya). Selanjutnya siswa mendiskusikan isi LKS pada kelompoknya masing-masing (± 45 menit), (5) ditunjuk beberapa kelompok secara bergiliran untuk menyampaikan atau mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, yang dapat ditanggapi oleh kelompok lainnya (± 15 menit), dan (6) siswa menulis rangkuman pelajaran hari itu, serta menyepakati bersama soal-soal yang menjadi tugas rumah (PR) (± 2menit).
Hasil peneltian menunjukkan, dengan penerapan soal contoh berjenjang disertai solusi argumentatif berbantuan LKS scafollding terjadi peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa secara bertahap. Untuk aktivitas siswa, peningkatan paling tajam terjadi pada aktivitas bertanya, menjawab pertanyaan guru, dan aktivitasnya dalam berdiskusi. Prestasi belajar siswa, khsusnya menyangkut rata-rata kelas, dari siklus I sampai siklus III berturut-turut: 7,81, 8,04, dan 8,06. Tanggapan siswa terhadap model pembelajaran ini sangat positif, yaitu sebagian besar siswa menginginkan model ini diteruskan.

Kata Kunci: contoh soal berjenjang, solusi argumentatif, LKS scafollding

.......................................dst. hub. 081913127080

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS BIOLOGI

ABSTRAKSI
LAPORAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

IMPLEMENTASI ‘SIULIS JELATA’ UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI BIOLOGI SISWA KELAS IX SMP XXXX TAHUN PELAJARAN 2007/2008
OLEH
XXX, NIP. xxx, 65 Halaman

Sistem LKS yang diterapkan guru kurang memberi tantangan kepada siswa. Belajar sukses bila belajar “seperti guru” yaitu menerapkan tahap belajar siulis jelata. Siulis jelata adalah akronim dari simak, tulis, jelaskan dan catat.
Tujuan penelitian adalah menerapkan berbagai strategi belajar untuk meningkatkan aktivitas dan kompetensi biologi dengan tahapan siulis jelata.
Penelitian dilakukan disemester ganjil tahun ajaran 2007/2008 dengan subjek penelitian siswa kelas IX SMP XXxx Xxx berjumlah 39 orang. Kegiatan dilakukan selama tiga siklus dengan materi pembelajaran sistem saraf, perkembangbiakan dan pewarisan sifat.
Proses pembelajaran disetting dengan 4 (empat) tahap kegiatan yaitu tahap menyimak, siswa melakukan kegiatan menyimak isi materi dengan menerapkan berbagai strategi belajar seperti antara lain strategi garis bawahi kata kunci, beri catatan pinggir, skema, gambar, tabel. Tahap menulis siswa membuat ringkasan untuk bahan presentasi dengan menerapkan strategi belajar seperti garis bawahi kata kunci, skema, gambar, tabel, out lining, peta konsep, tanya jawab, analogi, mnemonic. Tahap presentasi, siswa mempresentasikan materi pelajaran dengan menerapkan strategi belajar seperti PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review). Tahap terakhir mencatat, siswa mencatatkan ringkasan materi di papan tulis juga menerapkan berbagai strategi belajar seperti garis bawahi kata kunci, skema, gambar, tabel, out lining, peta konsep, analogi/homologi dan mnemonic.
Penelitian ini memperoleh hasil bahwa dari 3 siklus yang dilakukan kompetensi menyimak dan menjelaskan berpluktuasi (naik turun) tergantung tingkat kesukaran materi sedang kompetensi menulis dan mencatat meningkat. Untuk prestasi belajar juga meningkat.
Kesimpulan penelitian adalah jika tahapan belajar siulis jelata diimplementasikan dalam proses pembelajaran biologi dikelas IX SMP XXxx maka kompetensi menulis dan mencatat di papan meningkat, kompetensi menyimak dan menjelaskan berfluktuasi sedangkan prestasi belajar siswa meningkat.
Untuk mendapatkan kompetensi yang optimal penelitian ini menyarankan, selain mengajarkan berbagai strategi belajar dalam pengajaran biologi perlu memperhatikan urutan tingkat kesukaran , ketertarikan, kebutuhan siswa terhadap materi ajar yang akan diajarkan.

Kata kunci: Siulis jelata, kompetensi biologi


......................... dst.

01/14/2009

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS BAHASA INGGRIS

MENINGKATKAN KOMPETENSI WRITING PADA TEKS REPORT DENGAN STRATEGI MIND MAPPING PADA SISWA KELAS XI IA 1 SMA 1TAHUN PELAJARAN 2007-2008

BAB 1
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa internasional yang dipakai oleh sebagian besar penduduk dunia, oleh karena itu banyak hasil penemuan-penemuan baik ilmu pengetahuan maupun teknologi yang ditulis dalam bahasa ini. Dan untuk mengakses informasi tersebut tentu saja dibutuhkan sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi berbahasa Inggris yang memadai pula, baik secara lisan ataupun tulis .
Untuk menciptakan sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi yang baik dibutuhkan pendidikan yang baik, pendidikan yang mengacu pada kurikulum yang baik pula.
Kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yaitu kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing Satuan Pendidikan menghasilkan kurikulum yang beragam. Dan untuk menjamin tujuan pendidikan nasional, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan harus tetap mengacu pada standar nasional pendidikan
Standar nasional pendidikan terdiri dari standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari delapan standar nasional pendidikan tersebut yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi pelaksanaan Kurikulum Satuan Pendidikan di masing-masing Satuan Pendidikan.

Pelaksanaan Kurikulum KTSP yang tetap mengacu pada standar nasional pendidikan dapat menciptakan lulusan dengan sumber daya yang sesuai dengan kebutuhan tersebut, karena dalam kurikulum tersebut pembelajaran bahasa Inggris dikembangkan agar peserta didik mampu berkomunikasi secara lisan atau tulis sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan di masing-masing satuan pendidikan
Berkomunikasi adalah mampu.................................DST. SMS 081913127080

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS GEOGRAFI

PEMBELAJARAN BERBASIS PROJECT UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI KELAS XII IPS SMA

ABSTRAK


xxxxxxx,Pembelajaran berbasis project untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran geografi kelas XII IPS SMA

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) peningkatan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran geografi khusus kompetensi dasar ketrampilan dasar peta dan pemetaan, dan (2) peningkatan aktivitas belajar siswa ralam mata pelajaran geografi khusus kompetensi dasar keterampilan dasar peta dan pemetaan.
Masalah dalam penelitian ini adalah bahwa (1) prestasi belajar siswa yang rendah, dan (2) aktivitas belajar siswa yang kurang baik. Penelitian dilaksanakan di kelas XII IPS tahun pelajaran 2007/2008, dengan subjek penelitian 20 siswa yang terdiri dari 8 siswa perempuan dan 12 siswa laki – laki.

Metode yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas yaitu pembelajaran berbasis project yang meliputi empat tahapan penelitian yaiti: (1) perencanaan, (2) implementasi, (3) observasi, (4) analisis dan refleksi. Keempat tahapan tersebut membentuk siklus. Desain penelitian yang diterapkan adalah desain penelitian menurut Hopkins. Penelitian ini bersifat kolaboratif, yaitu peneliti melibatkan guru geografi untuk melaksanakan observasi dan refleksi. Hasil penelitian dianalisis dengan teknik deskriptif kuantitatif dengan mendeskripsikan temuan data dan membandingkan dengan indikator kinerja yang telah ditentukan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, pembelajaran berbasis project dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XII IPS tahun pelajaran 2007/2008. Terbukti ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan dari 30 % pada kegiatan prasiklus menjadi 80 % pada skhir siklus II.. Kedua, dengan pembelajaran berbasis project dapat meningkatkan antivitas belajar siswa. Terbukti terjadi peningkatan skor aktivitas dari 2,15 atau kualifikasi kurang baik pada kegiatan prasiklus menjadi 3,36 atau kualifikasi baik pada kegiatan siklus II.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Meningkatkan kualitas pendidikan merupakan tujuan yang diharapkan dalam pembangunan pendidikan nasional di Indonesia. Hal ini sesuai yang diterapkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 berbunyi:

................................. dst. hub. via sms 081913127080

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS MATEMATIKA

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK DENGAN MEDIA LINGKARAN BERTANDA POSITIF DAN NEGATIF DAN METODE TCL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP NEGERI XXX

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Pada ajaran baru tahun 2005 – 2006 SMP Negeri 2 xxx mulai menerapkan kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi/KBK) untuk kelas VII . Seleksi siswa baru pada sekolah ini dilakukan dengan sistem test untuk mata pelajaran matematika dan bahasa Indonesia. Hasilnya 240 siswa diterima dengan hasil yang bervariasi.
Untuk mengetahui tingkat penguasaan materi siswa di sekolah dasar penulis melakukan pretest dengan jumlah soal 20 butir kepada seluruh siswa dengan materi operasi penjumlahan pada bilangan bulat yang notabene di sekolah dasar sudah dipelajari. Namun hasilnya sungguh mengejutkan, nilai rata-rata test 3,87; siswa yang mendapat nilai 6,0 sebanyak 7 orang dan siswa yang mendapat nilai ≥ 6,5 sebanyak 10 orang.
Masalah nyata ini menimbulkan tanda tanya besar bagi penulis, mengingat nilai rata-rata matematika berdasarkan Surat Keterangan Hasil Ujian (SKHU) Ujian Nasional Tahun 2005 pada SMP Negeri 2 xxx menunjukkan angka 6,77 ; sementara itu pada SMP Negeri 4 xxx menunjukkan angka 8,05 .
Berdasarkan latar belakang kesenjangan antara hasil pretest dengan nilai SKHU siswa penulis bersama rekan sejawat melakukan ujicoba pengembangan model pembelajaran Matematika Realistik (Realistik Mathemathic Education) di SMP Negeri 2 xxx.

B.Identifikasi Masalah
Dalam pembelajaran matematika di kelas VII banyak materi yang harus disajikan oleh guru kepada siswa, diantaranya materi operasi hitung bilangan bulat yang semestinya sudah siswa kuasai di jenjang sekolah dasar (SD). Selama ini guru menggunakan metode “Terangkan–Catat–Latihan”. Metode ini mempunyai kelebihan, yaitu dalam waktu singkat anak memahami materi pelajaran namun tingkat retensi pemahaman siswa tidak optimal. Disamping itu, metode TCL mempunyai kelemahan, yaitu aspek psikis dan sosial anak tidak sepenuhnya terlibat. Untuk meningkatkan retensi pemahaman siswa perlu dilakukan pembelajaran yang melibatkan aspek kognitif, psikis dan sosial siswa secara optimal. Pembelajaran melalui metode pembelajaran matematika realistik dengan lingkaran bertanda positif dan negatif merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat melibatkan ketiga aspek tersebut. Pembelajaran dengan metode ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan retensi pemahaman siswa.
Dalam rangka menguji tingkat keefektifan dan tingkat retensi pemahaman siswa antara menggunakan metode Terangkan–Catat–Latihan (TCL) dengan metode pembelajaran matematika realistik dengan lingkaran bertanda positif dan negatif dalam operasi penjumlahan dan penguranagn pada bilangan bulat di kelas VII perlu dilakukan penelitian.

C.Pembatasan Masalah
Operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat sebenarnya telah diberikan pada pendidikan tingkat sekolah dasar (SD). Namun masih diulangi pada kelas VII pada sekolah menengah pertama (SMP), dengan pengayaan pengenalan penjumlahan bilangan bulat negatif. Bila penanaman konsep ini gagal atau lemah, maka pada materi-materi ataupun kelas selanjutnya kemampuan siswa dalam kedua operasi tersebut pada bilangan bulat tidak akan maksimal. Dengan pertimbangan inilah maka penelitian ini dilakukan pada kelas VII SMP.

D.Perumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang, identifikasi masalah dan pembatasan masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan permasalahan penelitian ini sebagai berikut :
1.Apakah metode pembelajaran matematika realistik dengan media lingkaran bertanda positif dan negatif lebih efektif daripada metode Terangkan–Catat–Latihan (TCL)?.
2.Apakah metode pembelajaran matematika realistik dengan media lingkaran bertanda positif dan negatif dapat meningkatkan retensi pemahaman materi yang lebih tinggi daripada metode Terangkan–Catat–Latihan (TCL)?.
E.Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan :
1.Mengetahui keefektifan metode pembelajaran matematika realistik dengan media lingkaran bertanda positif dan negatif dan metode Terangkan– Catat–Latihan (TCL).
2.Mengetahui tingkat retensi pemahaman materi dari metode pembelajaran matematika realistik dengan media lingkaran bertanda positif dan negatif dan metode Terangkan–Catat–Latihan (TCL).

F.Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan :
1.Mengembangkan metode pembelajaran matematika di SMP yang efektif dan efisien.
2.Meningkatkan retensi pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.


......................................DST. SELENGKAPNYA HUBUNGI VIA SMS DI 081913127080

01/13/2009

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS BAHSA INDONESIA

PENINGKATAN PEMBELAJARAN MEMBACA DENGAN METODE KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE SISWA KELAS IX-A SMP NEGERI xxx

ABSTRAK
xxxxx, 2007. Peningkatan Pembelajaran Membaca dengan Metode
Kooperatif Tipe Think-Pair-Share Kelas IX-A SMP Negeri


Kata-kata Kunci : peningkatan, membaca, metode Kooperatif Tipe Think-Pair
Share.

Membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan oleh penulis melalui media bahasa tulisan (Tarigan, 1994:7). Tujuan membaca meliputi mendapat alat tertentu, mendapat hasil yang berupa prestise, memperkuat nilai-nilai pribadi atau menghindarkan diri dari kesulitan, menurut Waples (dalam Nurhadi, 1987:136). Pembelajaran membaca pada penelitian ini diarahkan pada membaca untuk kelas IX-A SMP Negeri xxx dengan tipe Think-pair-share. Metode dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan sangat berperan terutama dalam proses belajar mengajar agar hasil yang didapat meningkat secara maksimal.
Metode kooperatif merupakan suatu strategi pembelajaran di mana siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dan saling membantu satu sama lain (Ibrahim, 2005:10).
Pembelajaran membaca pada kelas IX sudah sesuai dengan kompetensi dasar pada
penelitian ini, peneliti menggunakan dua kompetensi dasar. Tujuan pembelajaran
kooperatif untuk mencapai setidak-tidaknya pembelajaran penting yaitu
kemampuan akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, pengembangan
keterampilan sosial menurut Arends (dalam Ibrahim, 200:7-9).
Sasaran penelitan adalah siswa kelas IX-A SMPN xxx, pengumpulan
data dalam penelitian ini adalah dengan lembar aktivitas guru dan siswa, hasil
belajar pada setiap siklus, dan respon siswa setelah menggunakan penelitian
tindakan kelas terdiri atas 4 tahap, yaitu (1) perencanaan, (2) implementasi dan
observasi, (3) refleksi, dan (4) revisi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) aktivitas guru dan siswa pada
setiap siklus mengalami peningkatan. Tampak pada siklus pertama aktivitas guru
yang dominan menyampaikan pendahuluan dan materi, membantu siswa untuk
merefleksikan pembelajaran yang sedang berlagsung. Pada siklus kedua aktivitas
guru yang dominan adalah membimbing dan melatih siswa dalam pembelajaran
membaca cepat, memberi umpan balik kepada siswa. Aktivitas siswa pada setiap
siklus pun juga mengalami peningkatan, pada siklus pertama aktivitas siswa yang
dominan adalah bertanya jawab pada guru tentang membaca. Pada siklus kedua
adalah memperhatikan penjelasan guru dan merefleksikan materi pelajaran,
aktivitas siswa yang dominan adalah bertanya jawab pada guru tentang membaca
merefleksikan materi pelajaran.
Hasil belajar siswa pada setiap siklus mengalami peningkatan, pada siklus
pertama nilai rata-rata membaca debah adalah 75,5. Pada siklus kedua nilai rata
rata membaca cepat adalah 83,1 mengalami kenaikan sebanyak 7,6 dari siklus
pertama. Angket siswa pada siklus pertama dan kedua jumlah angket yang
tersebar adalah 40 dari tersebarnya angket dapat diketahui bahwa secara
keseluruhan siswa memberikan tanggapan yang positif dari proses pembelajaran
yang telah berlangsung. Demikian halnya angket guru yang secara keseluruhan
persentasenya muncul sebanyak 100% dari siklus pertama dan kedua. Jawaban
terdiri atas empat, yaitu ya, cukup, kurang dan tidak. Pada angket guru dan siswa
terlihat adanya peranan penggunaan metode kooperatif tipe Think-Pair-Share
dalam pembelajaran sangat berperan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

.....................dst. hub 081913127080

01/12/2009

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS MATEMATIKA

Efektifitas Pemanfaatan KPK untuk Mempermudah Pemahaman Siswa dalam Pengerjaan Soal Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan di Kelas 6 SD Negeri

Bab I
Pendahuluan

A. LATAR BELAKANG
Pelajaran matematika salah satu mata pelajaran yang memiliki jam pelajaran paling banyak jika dibandingkan dengan pelajaran yang lainkarena pelajaran matematika memiliki materi yang sangat komplit, jadi peranan matematika sangat menunjang di dalam kehidupan manusia sehari-hari.
Sebenarnya matematika amat potensial dalam mengoptimalkan otak kiri manusia sehingga seseorang bisa terampil menggunakan logika. Selain itu jika fungsi otak kanan yang mencakup kreativitas dengan otak kiri yang kemampuan berpikir bisa berjalan sinergis, kepiawaian seseorang dalam memecahkan solusi berbasis logika tak terbantahkan lagi ( Dra Dessy R, PR 2007 ).
Selama ini proses pembelajaran matematika di Indonesia masih belum optimal. Proses pembelajaran selama ini hanya menekankan pada pencapaian tuntutan kurikulum dan pencapaian tekstual semata dari pada mengembangkan kemampuan belajar dan membangun individu belajar ( Ghufron 1997 : 17 ).
Ada beberapa orang tua yang menyalahkan sekolah ketika anaknya mendapat nilai buruk, padahal tanpa disadari waktu belajar matematika di sekolah sangat terbatas, dalam hal ini peran orang tua sangatlah besar untuk membantu anaknya supaya mengulang di rumah dan sebaiknya kecintaan pada matematika ditanamkan sedini mungkin, jika perlu saat anak berusia pra-SD.
Beberapa masalah yang dihadapi dalam mata pelajaran matematika di kelas 6 SD Negeri 1 salah satunya adalah pengerjaan hitung tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan yang penyebutnya tidak sama, serta kurang semangat bahkan malas untuk mengerjakan soal-soal baik dari buku sumber maupun soal yang dibuat guru.
Pembelajaran matematika sekarang pada umumnya hanya terpaku pada contoh yang ada pada buku sumber sehingga siswa merasa bosan, bingung dan perkembamgan belajarnya tanpa inisiatif. Selain dari faktor siswa itu sendiri mungkin saja metode yang digunakan guru tidak tepat, alat peraga kurang memadai dan guru tidak pernah memotivasi dengan cara memberikan nilai, pujian ataupun hadiah. Kondisi seperti ini harus segera dioptimalkan dengan cara menggunakan sistem pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan ( PAKEM ), dengan tujuan agar siswa dapat menyenangi dan lebih semangat untuk belajar matematika.
Berdasarkan hasil latihan pengerjaan soal penjumlahan dan pengurangan pecahan siswa yang mendapat nilai 7 ke atas ada 6 orang, sedangkan siswa yang mendapat nilai 6 ke bawah ada 17 orang, ini berarti nilai yang di peroleh jauh dari parameter keberhasilan. Harapan guru menginginkan nilai yang memuaskan, oleh karena itu guru harus berusaha agar harapan dapat terwujud.
Dalam rangka mewujudkan harapan itu maka perlu dilakukan upaya secara terpadu dengan melakukan beberapa pendekatan teknik dan metode yang dianggap tepat supaya kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal penjumlahan dan pengurangan pecahan dapat meningkat.
Penelitian ini mengambil judul ”Penggunaan KPK Efektif dalam Meningkatkan Pembelajaran Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Pelajaran Matematika Kelas 6 SD Negeri 1 Melalui Metode Latihan”

B. RUMUSAN MASALAH
Secara umum masalah yang akan di bahas dalam penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal penjumlahan dan pengurangan yang penyebutnya tidak sama. Dengan menggunakan kpk dan metode latihan berdasarkan hal tersebut di atas masalah yang akan di teliti, yaitu :
Sejauh mana efektifitas penggunaan KPK dalam pengerjaan soal penjumlahan daan pengurangan pecahan?

C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui sejauhmana efektifitas pemanfaatan KPK dalam pemahaman siswa, dalam pengerjaan soal penjumlahan dan pengurangan pecahan.

D. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian adalah :
- Untuk diri sendiri/ guru dapat memberikan informasi tentang keefektifan KPK dalam pengerjaan soal penjumlahan dan pengurangan pecahan sedangkan untuk guru pada umumnya memperoleh tambahan wawasan tentang penggunaan KPK dalam pembelajaran.
- Untuk sekolah dapat berkembang karena adanya peningkatan/ kemajuan pada diri guru dan pendidikan di sekolah, untuk dunia pendidikan dapat meningkatkan kwalitas pendidikan

..................... dst. hub. 081913127080


01/11/2009

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS BAHASA INDONESIA

OPTIMALISASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PRAKTIK “BERKOMUNIKASI MELALUI TELEPON”

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sebagaimana telah maklum bahwa salah satu kelemahan sistem pembelajaran di sekolah kita adalah masalah kultur, terutama kultur guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran di depan kelas. Metode mengajar guru yang masih mengandalkan metode ceramah, potensial melahirkan output yang kurang percaya diri. Output yang selalu diliputi rasa takut, ragu-ragu dan malu. Secara khusus takut melakukan kesalahan (Kiyosaki, 2002 : 13).
Rasa takut, ragu-ragu dan malu ini menjadi semakin akut setelah mendapat respon yang negatif dari lingkungannya, baik siswa lain atau bahkan guru. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Jack Canfield (dalam Bobby DePorter, 1999 : 24) yang menyimpulkan bahwa siswa kita rata-rata mendapat komentar negatif 6 kali lebih banyak dibanding komentar positif. Komentar negatif, baik berupa kritik, cercaan, dll. Terbukti efektif merusakkan rasa percaya diri siswa kita. Dalam survey yang penulis lakukan dalam pembelajaran “praktik berkomunikasi melalui telepon”, terbukti lebih dari 70% siswa mengaku merasa masih diliputi rasa takut, selebihnya masih merasa ragu-ragu dan malu. Secara khusus takut terhadap kritik dari orang lain. Hal ini berakibat rendahnya motivasi dan rasa percaya diri siswa, dan selanjutnya terhadap rendahnya prestasi belajar siswa.
Kultur masyarakat kita masih belum dapat menghargai kesalahan berbuat sebagai pelajaran berharga malah sebaliknya dianggap berdosa. Padahal seharusnya, masih menurut Kiyosaki, yang harus dianggap berdosa adalah orang yang tidak pernah berbuat kesalahan, karena ia tidak pernah mencoba, sehingga tidak pernah mendapat pelajaran. Jadi masalahnya adalah bagaimana menangani emosi siswa pada saat belajar, agar siswa kita merasa senang, bahagia dan tidak takut, ragu-ragu dan malu dalam belajar.
Untuk mengatasi masalah emosi tersebut, penulis ingin mencoba mengatasi dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif. Karena dalam pembelajaran kooperatif, siswa dilibatkan secara aktif untuk berperan serta atau ikut andil dalam proses belajar. Pembelajaran kooperatif berarti belajar dalam kelompok-kelompok yang hiterogen anggotanya. Keberhasilan dalam kelompok sangat dipentingkan dalam pembelajaran ini. Karena itu siswa yang lemah akan mendapatkan bantuan dari siswa yang lebih pandai. Sebaliknya siswa yang lebih pandai dapat mengembangkan kemampuannya dengan mengajarkan materi pelajaran kepada siswa yang lebih rendah kemampuannya (Ibrahim, Muslimin, dkk., 2000).
Masih mengenai pembelajaran kooperatif, menurut penelitian Slavin ( dalam Nur, 2000), disebutkan bahwa secara konsisten pembelajaran kooperatif menunjukkan keunggulan dibanding pembelajaran individual. Hal ini memberi pelajaran bagi kita bahwa keterbatasan manusia harus diatasi dengan bersinergi atau bekerjasama dengan orang lain untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dan inilah letak pentingnya berkerjasama, atau kooperatif.
Adapun pembelajaran kooperatif yang hendak penulis terapkan adalah tipe STAD (Student Team Achievement Division). Tipe ini tidak hanya unggul dalam membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang sulit, tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kemampuan bekerjasama, kreatif, berfikir kritis dan siswa terlibat aktif secara mental ataupun fisik. Siswa lebih berani untuk mengemukakan ide atau pendapatnya melalui diskusi interaktif, baik antar siswa maupun siswa dengan guru dalam kelompok yang terbatas.
Berdasarkan analisa masalah tersebut, penulis ingin mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul :
OPTIMALISASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PRAKTIK
“BERKOMUNIKASI MELALUI TELEPON”
PADA SISWA KELAS
SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2007-2008

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan permasalahannya yaitu sebagai berikut :
1. Apakah penerapan model pembelajaan kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan keaktifan dan motivasi belajar siswa (mengurangi rasa takut, malu dan ragu-ragu) pada praktik berkomunikasi melalui telepon siswa kelas I

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS BAHASA INDONESIA

Penerapan Adaptasi dan Modifikasi Model Pembelajaran Kemp & Instructional Development Institute (IDI) dalam Pembelajaran Kompetensi berbicara dengan Pendekatan Bercerita/Mendongeng untuk Meningkatkan Hasil Belajar

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Dari pengalaman bertahun-tahun melaksanakan tugas profesi, dan menghadapi beragam tipe siswa per kelas, seorang guru dapat mereka-reka dan memformulasi cara yang pas dalam mengajarkan suatu materi pelajaran, bahkan mereka dapat menemukan cara yang lebih baik, lebih efektif, lebih cepat, lebih taktis, atau lebih bermakna dalam proses pembelajaran suatu materi pelajaran.
Penemuan yang individual ini, tentu akan mempermudah pelaksanaan tugasnya dan lebih menjamin hasil belajar yang memuaskan pada para siswa. Pengalaman berhasil dengan satu cara, pendekatan, atau teknik pengajaran, bahkan dapat menjadi formula yang bisa dibagi kepada rekan seprofesi pada bidang keilmuan yang sama, baik di satu lembaga pendidikan, antar sekolah, maupun antar daerah dan bahkan antar negara. Singkat cerita, sesepele apapun sebuah inovasi pengajaran, hal itu menandakan bahwa seorang guru berdenyut, sebuah kelas bernafas, dan lokomotif pendidikan–meski mungkin perlahan, tetap bergerak ke tujuan. Pendidikan dan pembelajaran bukan sebuah aktifitas yang stagnan.
Peneliti sebagai seorang guru, dalam melaksanakan tugas profesi merasakan pula cobaan dan kesulitan yang sama seperti yang dialami rekan-rekan seprofesi: kondisi sekolah dan sarana yang menggenaskan, siswa-siswa yang menggemaskan datang dari latarbelakang yang mencemaskan, atau income sering melemaskan itu. Semua sudah kita hadapi dengan lapang hati.
Yang sering kita abaikan untuk dihadapi dengan sedikit lebih serius adalah kelas, siswa, dan bidang studi kita sendiri. Kesulitan dan tantangan mendasar dalam tugas profesi seorang guru di antaranya ada di sana; di antara empat dinding dan atap kelas kita.
Di malam hari, seorang guru memikirkan apa yang dia ajarkan besaok, dan bagaimana cara agar proses pembelajaran berjalan lancar sehingga mencapai tujuan. Persiapan materi dan bahan pun dilakukan. Dia juga mempersiapkan strategi dan teknik yang akan diterapkan besok di kelasnya.
Pembelajaran berarti pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru. Pembelajaran mencakup pemilihan, penyusunan, dan penyampaian informasi dalam suatu lingkungan yang sesuai.
Dalam proses pembelajaran tercakup juga pengajaran. Pengajaran adalah susunan informasi dan lingkungan untuk memfasilitasi pembelajaran. Lingkungan tidak hanya tempat yang digunakan saat pengajaran berlangsung tetapi juga metode, media, dan peralatan yang dibutuhkan untuk menyampaikan informasi dan bimbingan terhadap proses belajar siswa. Jika pembelajaran bertumpu pada kegiatan bagaimana siswa belajar, maka pengajaran bertumpu pada kegiatan bagaimana guru mengajar.
Peranan guru sangat penting dalam perencanaan dan proses pembelajaran. Istilah proses pembelajaran disebut juga kegiatan instruksional. Langkah-langkah kegiatan ini menyangkut bagaimana penyajian materi pelajaran supaya siswa dapat mencapai tujuan instruksional yang sudah dirumuskan. Jadi, kegiatan instruksional dimulai setelah guru merumuskan tujuan instruksional. Kemungkinan pertanyaan yang muncul setelah merumuskan tujuan instruksional adalah: Apa harus dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran esok?
R.D. Conners (1980) mengidentifikasikan tiga tahap tugas guru, yang meliputi:
1) Sebelum pengajaran (meliputi program satuan pelajaran, perencanaan program mengajar);
2) Pengajaran, yaitu berlangsungnya interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa baik secara individu maupun kelompok;
3) Sesudah pengajaran, antara lan menilai kinerja siswa, mengevaluasi kembali pelaksanaan proses belajar-mengajar yang telah berlangsung.
Wilbur Schramm (1984) mengemukakan bahwa kegiatan instruksional ialah semua yang harus dikerjakan guru setelah ia merumuskan tujuan instruksional dengan jelas dan menentukan titik permulaan siswa pada saat pelajaran dimulai.
Semua yang disebutkan tadi merupakan tantangan harian seorang guru bidang studi dalam pelaksanaan tugasnya. Mutu pendidikan secara prinsip sebenarnya bermula dari seberapa serius seorang guru mempersiapkan hal ini. Akan tetapi, sejumlah faktor penghambat dan penyulit selalu saja ada pada proses tersebut.
Sebagai seorang guru bidang studi Bahasa Indonesia, kadang peneliti mengalami betapa sulitnya menaklukan satu kompetensi dasar dari materi pelajaran yang harus diajarkan. Contohnya, meski tak satupun siswa yang bisu sungguhan, akan tetapi membuat siswa menguasai satu dari empat kompetensi dasar berbahasa, yaitu berbicara betapa sukarnya.
Dalam situasi formal di sekolah, komunikasi di dalam kelas sering hanya berlangsung satu arah; guru mengoceh dan para siswa mencatat atau menjadi pendengar pasif. Ruang-ruang kelas kita seperti ruang interogasi. Pantas kiranya, siswa-siswa kita lemah pada sejumlah kompetensi dasar seperti, menulis, membaca, berbicara, dan berhitung, karena rupanya mereka lebih banyak mengandalkan indera dengarnya.
Cukup mengherankan, diluar kelas--misalnya pada jam istirahat, terdengar para siswa “berkicau” sedemikian gempita. Akan tetapi, ketika jam pelajaran berbicara, burung-burung itu seperti tercekat di tenggorokan masing-masing siswa. Ada apakah gerangan?
Jalaluddin Rakhmat dalam Retorika Modern Pendekatan Praktis (2000:15) mengungkap bahwa dewasa ini retorika, baik sebagai public speaking, oral communication, atau speech communication, diajarkan dan diteliti secara ilmiah di lingkungan akademis. Dr. Charles Hurst mengadakan penelitian tentang pengaruh speech course terhadap prestasi akademik mahasiswa. Hasilnya membuktikan bahwa ada pengaruh cukup berarti. Mahasiswa yang memperoleh pelajaran berbicara (speech group) mendapat skor yang lebih tinggi dalam tes belajar dan berpikir, lebih terampil dalam studi dan lebih baik dalam prestasi akademiknya dibandingkan mahasiswa yang tidak memperoleh pelajaran itu. Hurst menyimpulkan:
Data penelitian ini menunjukkan dengan jelas bahwa kuliah speech tingkat dasar adalah agen synthesa, yang memberikan dasar skematis bagi mahasiswa untuk berpikir lebih teratur dan memperoleh penguasaan yang lebih baik terhadap aneka fenomena yang membentuk kepribadian.

............................. dst hub. via sms di 081913127080


LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS BIOLOGI

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR IPA
SISWA KELAS IX G SMP NEGERI

ABSTRAK
xxxxxx. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Make a Match untuk Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar IPA Biologi pada Siswa Kelas IX SMPN . Laporan Penelitian Tindakan Kelas.
Kata kunci. Minat, kooperatif, Make a match
Berdasarkan data lapangan, siswa lebih banyak yang suka diajarkan meng¬gunakan model pembelajaran konvensional, siswa yang sering menjawab pertanyaan guru hanya siswa yang pandai saja, siswa yang tidak pandai tidak berusaha menjawab dan tidak berani bertanya kepada guru, siswa tidak suka bekerjasama dengan temannya walaupun telah dianjurkan oleh guru. Data tersebut merupakan bagian dari indikator kurangnya minat belajar siswa.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Penerapan Pembelajaran Kooperatif Learning Model Make a match dapat Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas IX SMPN .
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam 2 siklus. Dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran kooperatif model Make a match dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas IX SMP Negeri pada materi Pertumbuhan dan Perkembangan. Peningkatan minat ini diketahui berdasarkan hasil pengamatan minat oleh observer yang menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari indikator-indikator minat yakni frekuensi bertanya meningkat 28,40%, kualitas pertanyaan meningkat sebesar 26,32%, kerjasama meningkat 3% dari 89,8% menjadi 92,8%, dan pemanfaatan sumber belajar meningkat sebesar 71,15%. Peningkatan minat juga dapat diketahui dari hasil angket minat siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan sintaks model pembelajaran Make a match menunjukkan rata-rata 95,45% siswa mengikuti kegiatan sesuai sintaks pembelajaran, dan peningkatan hasil belajar baik nilai rata-rata kelas, persentase ketuntasan belajar maupun peningkatan nilai secara individual.
Saran yang dapat dikemukakan adalah diharapkan kepada pengajar untuk menggunakan model pembelajaran Make a match pada materi pertumbuhan dan perkembanga karena model pembelajaran ini terbukti meningkatkan minat belajar dan prestasi belajar siswa. Pembagian kelompok dalam dua kelompok besar sebaiknya dimodifikasi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan anggota antara 4-5 orang supaya pembelajaran menjadi lebih efektif.
Bagi peneliti lain yang ingin menggunakan model pembelajaran Make a match, sebaiknya meneliti dua hal sekaligus yakni peningkatan minat belajar dan peningkatan prestasi belajar, karena terbukti model pembelajaran Make a match dapat meningkatan minat dan prestasi belajar siswa.

All the posts