01/24/2009

Multimetode yang berpusat pada siswa

BELAJAR AKTIF

 

A. Pengantar

Salah satu unsur dalam PAKEM adalah pembelajaran aktif; aktif bagi guru maupun aktif bagi siswa. Salah satu paham belajar aktif adalah seperti yang diungkapkan oleh ajaran Confucius yang telah diperluas, yakni:

Apa yang saya dengar, saya lupa.

Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit.

Apa yang saya dengar, lihat dan ajukan pertanyaan tentangnya atau diskusikan dengan orang lain, saya mulai mengerti.

Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperolah pengetahuan dan ketrampilan.

Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya menguasai.

            Salah satu alasan mengapa banyak murid yang lupa dari apa yang mereka dengar adalah bahwa kecepatan berbicara guru berbeda jauh dengan kecepatan mendengar murid. Kebanyakan guru berbicara 100 sampai dengan 200 kata per menit, sementara murid yang berkonsentrasi penuh hanya mampu mendengar 50 sampai dengan 100 kata per menit atau separoh dari apa yang diucapkan oleh guru. Hal ini disebabkan murid harus berpikir banyak sementara mereka mendengar.

            Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa tidak perhatian dalam perkuliahan sekitar 40% dari total waktu (Pollio 1984 dalam Silberman 1996). Lebih lanjut, mahasiswa menyerap materi kuliah 70% pada menit pertama dan hanya 20% pada 10 menit yang terakhir. Hasil penelitian ini akan berlaku juga  pada murid SMA, SMP atau SD dan TK.

            Penelitian juga menunjukkan bahwa menambahkan alat bantu visual pada pelajaran meningkatkan penyerapan dari 14% menjadi 38% (Pike 1988 dalam Silberman 1996). Penelitian  lain menunjukkan bahwa terdapat peningkatan 200 % jika kosakata diajarkan dengan alat bantu visual. Sebuah gambar mungkin tidak lebih berarti dari seribu kata, tetapi gambar tiga kali lebih efektif dibandingkan dengan kata-kata saja.

 

B. Pembelajaran meningkat jika siswa diminta untuk melakukan hal-hal berikut:

1.      Menyatakan informasi (materi pelajaran) dengan menggunakan kalimat mereka sendiri

2.      Memberikan contoh dari materi pelajaran

3.      Memahami materi pelajaran dalam berbagai samaran dan keadaannya

4.      Melihat kaitan antara materi pelajaran dengan pelajaran lain atau kehidupan sehari-hari

5.      Menggunakan materi pelajaran dalam berbagai cara

6.      Memperkirakan akibat dari materi pelajaran

7.      Menyatakan lawan atau kebalikannya

 

C. Gaya Belajar

1.      Gaya belajar visual yang ditandai dengan mampu belajar secara baik dengan melihat orang lain, suka mengikuti penjelasan yang runtut, lebih suka mencatat apa yang dijelaskan guru, tidak mudah terganggu dengan kebisingan.

2.      Gaya belajar auditorial yang ditandai dengan kemampuan mendengar dan mengingat, mudah terganggu dengan kebisingan.

3.      Gaya belajar kinestetik yang ditandai mampu belajar secara baik dengan terlibat dalam suatu aktivitas, cenderung berbuat seenaknya, gelisah jika tidak bergerak dan melakukan sesuatu.

Dalam pembelajaran guru sebaiknya mampu menyediakan kegiatan yang berupa materi visual, auditorial dan kinestetika secara memadai.

Siswa lebih menyukai terlibat langsung dengan pengalaman/praktek dibandingkan dengan belajar konsep dasar kemudian menerapkannya.

 

D. 10 cara meraih partisipasi pada setiap saat

1.      Diskusi terbuka: Ajukan pertanyaan pada seluruh siswa atau kelompok. Untuk menghindari pemborosan waktu, guru dapat menyatakan sebelumnya bahwa hanya meminta 4 atau 5 siswa untuk mengajukan pendapat dengan mengacungkan tangan.

2.      Kartu respon: Guru meminta siswa untuk menjawab pertanyaan pada kartu atau potongan kertas dengan tidak menuliskan nama atau identitas lain.

3.      Poling: Guru melakukan survey yang singkat untuk memperoleh data secara cepat. Hal ini dapat dilakukan dengan survey verbal misalnya dengan meminta siswa mengangkat tangan atau mengangkat kartu jawaban

4.      Diskusi kelompok: Guru meminta siswa berkelompok dengan anggota tiga atau lebih untuk berbagi informasi.

5.      Belajar berpasangan: Guru meminta siswa untuk mengerjakan tugas atau berdiskusi dengan teman di dekatnya secara berpasangan. Belajar berpasangan cocok untuk mengerjakan tugas yang rumit.

Beberapa tugas yang dapat diberikan pada kegiatan belajar berpasangan:

a.       Mendiskusikan bacaan singkat

b.      Saling bertanya terkait dengan reaksi pasangan terhadap tugas membaca, materi pelajaran atau yang lainnya

c.       Saling mengritik pekerjaan pasangan

d.      Saling bertanya tentang hasil membaca

e.       Merangkum pelajaran yang baru diberikan

f.        Mengembangkan pertanyaan yang akan diajukan pada guru

g.       Mengalisis masalah tertentu, latihan atau percobaan

h.       Saling menguji pasangan

i.         Merespon pertanyaan yang diajukan guru

j.        Membandingkan catatan pelajaran yang dibuat di kelas

6.      Kobarkan semangat: Guru berkeliling kelas untuk memperoleh jawaban terhadap pertanyaan yang mengobarkan semangat seperti satu perubahan yang ingin saya buat di Indonesia adalah ...... Guru menggunakan pertanyaan pengobar semangat yang bervariasi.

7.      Panel: Guru meminta beberapa siswa untuk mengemukakan pendapatnya di depan kelas seperti dalam bentuk diskusi panel. Siswa-siswa yang duduk di depan menghadap ke teman-teman lain berperan sebagai panelis. Kemudian secara bergiliran siswa-siswa lain menjadi panelis.

8.      Fishbowl (diskusi melingkar): Guru meminta beberapa siswa untuk melakukan diskusi secara melingkar dan siswa yang lain mendengarkan dalam format melingkar di luar nya. Kemudian buat lingkaran kecil di dalamnya untuk melanjutkan diskusi

9.      Permainan: Guru menggunakan permainan dalam pembelajaran. Berbagai jenis kuis di TV dapat diterapkan di kelas dengan beberapa modifikasi (misalnya who wants to millioner, gamezone, permainan kata, dll)

10.  Pemanggilan pembicara selanjutnya: Guru meminta siswa untuk mengacungkan tangan jika mereka ingin menyampaikan pendapatnya dan memanggil seorang siswa untuk mengemukakan pendapatnya. Setelah selesai giliranya, siswa ini diminta menunjuk siswa lain menyampaikan pendapatnya.

 

E. 10 anjuran untuk meningkatkan pembelajaran

Membuka pelajaran: Membangun ketertarikan

1.          Cerita atau visualisasi yang menarik: Guru menyediakan cerita fiksi, gambar, grafik atau alat visual lain yang relevan untuk menarik perhatian siswa terhadap apa yang akan guru ajarkan.

2.          Permasalahan: Guru mengajukan permasalahan yang terkait dengan pelajaran yang akan disampaikan

3.          Pertanyaan: Guru mengajukan pertanyaan pada siswa sehingga mereka termotivasi untuk mengikuti pelajaran

Kegiatan inti: Mengoptimalkan pemahaman dan penyerapan

4.          Headline: Guru menyarikan pelajaran dengan kata-kata kunci agar mudah diingat.

5.          Contoh dan analogi: Guru menyediakan contoh dan ilustarsi dalam kehidupan sehari-hari yang terkait dengan pelajaran. Guru juga dapat membuat perbandingan antara materi pelajaran dengan pengalaman siswa

6.          Alat peraga: Guru menggunakan alat peraga ketika menjelaskan sesuatu. Misalnya ketika menjelaskan warna-warna dalam pelangi guru dapat menggunakan gelas yang berisi air untuk percobaan pelangi.

Kegiatan inti: Melibatkan siswa dalam pelajaran

7.          Menantang: Hentikan pelajaran secara periodik dan ajukan pertanyaan yang menantang pada siswa, misalnya memberikan contoh dari pelajaran yang disampaikan atau menjawab kuis.

8.          Pemerjelas: Dalam pembelajaran yang berlangsung, selingi dengan kegiatan singkat yang dapat memperjelas apa yang sedang dijelaskan, misalnya dengan latihan soal

Penutup pelajaran: Penguatan

9.          Aplikasi: Hadapkan suatu masalah atau pertanyaan pada siswa-siswa untuk menyelesaikannya berdasarkan penjelasan dalam pembelajaran.

10.      Reviu: Minta siswa-siswa untuk mereviu isi pelajaran dengan yang lain atau memberi mereka tes skor reviu.

 

F. Cara membentuk kelompok

1.          Kartu kelompok. Langkah pertama adalah menetapkan jumlah kelompok. Jumlah kelompok dalam kelas dapat ditentukan berdasarkan jumlah siswa. Langkah berikutnya adalah membuat kartu yang diberi nomor dari 1 sampai dengan nomor terakhir yang sesuai dengan jumlah kelompok atau kartu warna-warni dengan jumlah warna sama dengan jumlah kelompok. Kartu-kartu ini dibuat rangkap sebanyak jumlah kelompok. Kemudian kartu-kartu ini dibagaikan kepada siswa-siswa, mereka yang mendapat kartu dengan nomor sama atau warna membentuk satu kelompok

2.          Puzzle: Buat gambar hewan atau mobil atau yang lain pada kertas karton sebanyak jumlah kelompok yang ingin dibentuk. Kemudian gambar ini dipotong-potong sesuai dengan jumlah anggota kelompok. Masing-masing potongan dibagikan kepada siswa-siswa. Siswa yang mendapatkan potongan gambar gajah berkumpul dan membentuk satu kelompok.

3.          Kartu nama: Gunakan kartu nama yang berbeda-beda bentuk dan atau warnanya untuk menentukan kelompok yang berbeda

4.          Kelahiran: Siswa-siswa diminta untuk berkelompok berdasarkan kelahirannya, misalnya siswa yang lahir bulan Januari dan Februari membentuk satu kelompok, demikian juga untuk bulan-bulan yang lain.

5.          Kartu remi: Gunakan kartu remi atau jenis lain  untuk membentuk kelompok. Misalkan, gunakan aces (as), king (K), queen (Q) dan jack (J) untuk membentuk empat kelompok.

6.          Nomor undian: Buat potongan-potongan  kertas dan beri nomor sesuai dengan jumlah kelompok dan jumlah siswa. Kemudian masukan dalam kotak. Tiap siswa diminta mengambil nomor undian. Siswa-siswa yang mendapat nomor undian yang sama membentuk satu kelompok.

7.          Rasa permen: Bagikan permen dengan berbagai rasa berbagai rasa untuk membentuk kelompok. Misalkan ingin membentuk 4 kelompok maka permen yang dibagikan memiliki empat rasa: lemon, strawbery, mangga, dan jambu. Jumlah masing-masing rasa sesuai dengan jumlah kelompok yang ingin dibentuk.

8.          Kesukaan: Kumpulkan mainan yang bertema sama dan gunakan untuk membentuk kelompok, misalkan untuk tema transportasi maka mobil, kapal, pesawat, kereta api dapat digunakan untuk membentuk 4 kelompok. Masukkan mainan ini ke dalam kotak dan minta siswa untuk mengambil undian dan kemudian dikembalikan lagi. Siswa yang mengambil undian yang sama berkumpul membentuk satu kelompok.

9.          Buku siswa: Guru dapat memberikan kode pada buku PR siswa untuk menentukan kelompok.

 

G. Cara memfasiltasi diskusi

Diskusi kelas merupakan kegaiatn penting dalam pembelajaran aktif. Peran guru selama diskusi adalah memfasilitasi arus pendapat atau komentar siswa. Beberapa anjuran untuk memimpin diskusi adalah:

1.          Menguaraikan dengan kata-kata sendiri apa yang seseorang katakan sedemikian hingga seorang siswa memahami dan siswa-siswa lain dapat mendengarkan  rangkuman singkat dari apa yang dikatakan pembicara

2.          Cek pemahaman guru terhadap perkataan siswa atau meminta seorang siswa untuk memperjelas apa yang ia ucapkan.

3.          Memberi pujian komentar atau wawasan yang menarik. Contoh: Itu adalah gagasan yang baik. Saya  bangga kamu mengajukan gagasan itu.

4.          Memerinci sumbangan siswa pada diskusi dengan contoh atau menyarankan cara pandang baru terhadap masalah. Misalnya, komentarmu memberikan hal menarik dari perspektif minoritas. Kita juga dapat memikirkan bagaimana mayoritas memandang situasi yang sama.

5.          Menghidupkan diskusi dengan mempercepat langkah atau dengan humor atau jika perlu mendorong siswa untuk lebih memberikan sumbangan pemikiran

6.          Tidak setuju dengan komentar siswa untuk menstimulus diskusi lebih lanjut.

7.          Menengahi perbedaan pendapat antara siswa dan menghilangkan ketegangan yang mungkin terjadi

8.          Menyatukan berbagai gagasan – menunjukkan hubungan satu dengan yang lain.

9.          Mengubah proses dengan mengubah metode untuk memperoleh partisipasi atau merubah kelompok untuk tahapan menilai gagasan yang telah terjadi sebelumnya. Misalnya, marilah kita pecah kelompok menjadi kelompok yang lebih kecil dan lihat apakah kamu dapat menghasilkan beberapa kriteria untuk menyelesaikan masalah gender.

10.      Merangkum dari pandangan mayoritas kelas.

 

H. Teknik-teknik pembelajaran

Pembelajaran kelas (klasikal)

a.      Membangkitkan rasa ingin tahu

Teknik ini menstimulus rasa ingin tahu siswa dengan mendorong berspekulasi tentang topik pelajaran atau pertanyaan.

Prosedur

1.      Bertanya pada siswa-siswa sebuah pertanyaan yang membangkitkan minat untuk membangkitkan rasa ingin tahu tentang subyek yang ingin kita ajarkan/diskusikan. Pertanyaan yang diajukan seharusnya dapat dijawab oleh beberapa siswa.

Contoh:

  • Pengetahuan sehari-hari: Mengapa kita harus membayar pajak penghasilan?)
  • Bagaimana melakukan (Menurut para ahli, apa cara terbaik untuk mengawetkan mumi?)
  • Cara sesuatu bekerja (Apa yang menyebabkan mobil berjalan?)
  • Keluaran (Apa penyelesaian dari masalah ini?)
  1. Dorong spekulasi dan dugaan dari siswa-siswa dengan ucapan dugalah atau perkirakan
  2. Jangan segera memberikan umpan balik (jawaban). Tampung semua dugaan/perkiraan. Bangun rasa ingin tahu ke arah jawaban yang sebenarnya.
  3. Gunakan pertanyaan yang membimbing ke materi yang akan kita ajarkan. Cantumkan juga jawaban pertanyaan dalam kegiatan pembelajaran

 

b.      Mendengarkan tim

Teknik ini merupakan cara untuk membantu siswa-siswa tetap fokus dan siaga selama pelajaran. Mendengarkan tim menciptakan tanggung jawab kelompok untuk memperjelas materi pelajaran

Prosedur

  1. Kelompokkan siswa-siswa ke dalam 5 tim dan berilah tim tugas-tugas sebagai berikut:

Tim

Peran

Tugas

1

Bertanya

Setelah selesai pelajaran, mintalah setidaknya dua pertanyaan tentang materi pelajaran yang diberikan

2

Setuju

Setelah selesai pelajaran, beritahukan bagian materi pelajaran mana yang setuju dan jelaskan mengapa

3

Tidak setuju

Setelah selesai pelajaran, beri komentar bagian materi pelajaran mana yang tidak setuju dan jelaskan mengapa

4

Memberi contoh

Setelah selesai pelajaran, berilah contoh khusus atau penerapan dalam kehidupan sehari-hari dari materi pelajaran

5

Membuat rangkuman

Setelah selesai pelajaran, buatlah rangkuman singkat dari materi pelajaran

 

  1. Sampaikan materi pelajaran. Setelah selesai berilah tim waktu untuk melengkapi tugass-tugas mereka
  2. Panggil masing-masing tim untuk mempresentasikan hasil kerjanya.

 

c.       Permainan sholawat/Bingo

Pembelajaran tidak membosankan dan siswa-siswa akan lebih siaga jika guru menjadikan pembelajaran dalam suatu permainan.

Prosedur

1.      Buatlah materi pelajaran menjadi sampai dengan 9 poin kunci.

2.      Buatlah kartu Sholawat/Bingo yang berisi poin-poin kunci dalam matrik/kotak 3 x 3. Letakkan sebuah poin yang berbeda pada masing-masing kotak . Jika materi pelajaran kurang dari 9 poin, biarkan beberapa kotak kosong.

3.      Buatlah beberapa kartu Sholawat/Bingo lagi dengan poin-poin kunci yang sama tetapi letak poin kunci berada pada kotak yang berbeda-beda.

4.      Bagikan kartu Sholawat/Bingo pada siswa-siswa. Bagikan juga 9 kertas bundar berwarna yang dapat dilekatkan pada kartu Sholawat/Bingo. Perintahkan kepada siswa-siswa untuk mengikuti poin demi poin pelajaran yang dijelaskan dan mereka menempelkan kertas bundar pada kotak yang berisi poin yang sedang dijelaskan.

5.      Mintalah siswa yang dapat melengkapi 3 kotak vertikal atau horisontal atau diagonal dengan tempelan kertas bundar berwarna, ia mengucapkan sholawat atau Bingo.

6.      Selesaikan pelajaran. Biarkan siswa-siswa memperoleh sholawat atau Bingo sebanyak yang mereka dapat.

 

d.      Pembelajaran sinergi

Teknik ini memungkinkan siswa-siswa yang memiliki pengalaman belajar materi yang sama secara berbeda untuk membandingkan catatan.

Prosedur

1.      Bagi kelas menjadi dua kelompok

2.      Pindahkan satu kelompok ke ruang lain untuk membaca materi pelajaran yang sedang guru jelaskan. Yakinkan bahwa materi pelajaran dapat dibaca dengan mudah oleh siswa

3.      Pada saat yang sama, ajar kelompok lain dengan materi pelajaran yang sedang dibaca kelompok satunya.

4.      Kemudian pertukarkan dua kelompok ini, kelompok yang diajar sekarang diminta untuk membaca dan kelompok yang membaca diajar.

5.      Pasangkan masing-masing anggota dari masing-masing kelompok dan minta mereka untuk merangkum apa yang mereka pelajari.

 

e.      Pembelajaran terbimbing

Dalam teknik ini, guru menanyakan satu atau lebih pertanyaan untuk menangkap pengetahuan siswa atau untuk memperoleh hipotesa atau kesimpulan dan kemudian memisahkannya dalam kategori. Teknik ini merupakan suatu jeda yang baik dari pembelajaran dan memungkinkan guru untuk mempelajari apa yang siswa-siswa telah ketahui dan pahami sebelum pelajaran. Teknik ini cocok untuk pembelajaran konsep yang abstrak.

Prosedur

1.      Ajukan pertanyaan atau serangkaian pertanyaan yang menangkap pemikiran dan pengetahuan yang dimiliki siswa. Gunakan pertanyaan-pertanyaan yang memiliki beberapa jawaban (pertanyaan terbuka) seperti bagaimana kamu mendikripsikan seseorang itu pintar?

2.      Beri siswa-siswa waktu untuk memikirkan jawaban secara berpasangan atau kelompok

3.      Kumpulkan dan catat gagasan siswa-siswa. Jika mungkin pisahkan gagasan dalam kategori berbeda yang sesuai atau konsep yang akan guru ajarkan.

4.      Sampaikan poin utama dari materi pelajaran ingin diajarkan. Biarkan siswa-siswa menemukan gagasan mereka sesuai dengan poin-poin utama yang diajarkan.

 

f.        Mengundang pembicara tamu

Teknik ini adalah cara yang baik untuk melibatkan pembicara tamu yang tidak memiliki waktu untuk menyiapkan rencana pembelajaran untuk kelas. Ini juga memberikan kesempatan kepada siswa-siswa untuk berinteraksi dengan ahli dari topik pelajaran dengan cara yang unik dan berperan aktif.

Prosedur

  1. Undang pembicara tamu yang ahli dari topik pelajaran yang sedang diajarkan. Contoh mengundah polisi, pejabat pemerintah, pejabat kantor pos, dll.
  2. Beritahukan pada pembicara tamu bahwa pelajaran akan dilaksanakan seperti konferensi pers. Pembicara tamu menjelaskan secara singkat kemudian dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan ’wartawan’

Sebelum pembicara tamu datang, siapkan siswa-siswa bagaimana konferensi pers berlangsung dan beri kesempatan mereka untuk menyusun pertanyaan yang akan diajukan kepada pembicara tamu.

 

g.      Siapa Dia

Teknik ini menawarkan pendekatan untuk membantu siswa belajar materi kognitif. Teknik yang diadaptasi dari kuis ’Siapa Dia’ di sebuah stasiun televisi ini memberi kesempatan siswa untuk mereviu materi yang sudah diajarkan dan penguatan.

Prosedur

  1. Bagi kelas ke dalam dua kelompok atau lebih
  2. Tulis pada secarik kertas tentang pernyataan yang terkait dengan seseorang, kejadian, teori, konsep, ketrampilan, formula dan sebagainya yang sesuai dengan materi pelajaran yang dipelajari. Contoh:

·        Saya adalah Jendral Sudirman (seseorang)

·        Saya adalah hukum newton (teori)

·        Saya adalah E = mc2 (formula)

  1. Letakkan kertas yang bertuliskan ini ke dalam kotak dan minta salah satu kelompok untuk mengambil kertas. Kertas bertuliskan peran ini menunjukkan identitas dari tamu misterius.
  2. Beri kelompok waktu 5 menit untuk melakukan hal-hal berikut:

·        Pilih salah satu anggota kelompok untuk menjadi tamu misterius

·        Antisipasi pertanyaan yang diajukan kelompok lain dan bagaimana menjawabnya

  1. Pilih kelompok yang tampil menjadi tamu misterius
  2. Buat panel dari beberapa anggota kelompok lain
  3. Mulai permainan. Mintalah tamu misterius menampakkan perannya. Panelis mengajukan pertanyaan yang jawabnya ya atau tidak sampai panelis mampu mengidentifikasi tamu misterius.
  4. Berganti giliran, kelompok panel menjadi tamu misterius sedangkan kelompok tamu misterius menjadi panelis.

 

Diskusi Kelas

h.      Debat

Debat dapat merupakan suatu metode yang penting untuk mendorong berpikir dan berefleksi, khususnya jika siswa-siswa diharapkan memikirkan hal yang berlawanan dengan pemikiran mereka sendiri.

Prosedur

1.      Susunlah pernyataan yang merupakan sesuatu yang berlawanan yang terkait dengan materi pelajaran (misal ’media menciptakan berita bukan hanya melaporkan berita)

2.      Bagi kelas ke dalam dua kelompok. Tandai kelompok pertama dengan kelompok ‘pro’ dan kelompok lain sebagai kelompok ‘kontra’.

3.      Pada masing-mssing kelompok buatlah 2 sampai dengan 4 sub kelompok. Sebagai contoh jika jumlah siswa 24 orang, maka dapat dibuat 3 sub kelompok beranggotakan 4 orang baik untuk kelompok ‘pro’ maupun kelompok ‘kontra’. Mintalah masing-masing sub kelompok untuk mengembangkan argumen dari tugas yang diberikan secara berdiskusi. Pada akhir diskusi mintalah sub kelompok untuk memilih pembicara yang mewakili sub kelompoknya.

4.      Susunlah tempat duduk sejumlah sub kelompok secara berhadapan dan persilahkan pembicara masing-masing kelompok menduduki tempat duduk tersebut sedangkan anggota yang lain duduk di belakang mereka. Awali debat dengan meminta setiap pembicara untuk menyampaikan argumennya.

5.      Setelah setiap orang mendengarkan argumen awal, hentikan debat dan kembalikan ke sub kelompok masing-masing. Mintalah setiap sub kelompok mendiskusikan bagimana ‘mematahkan’ argumen awal (argumen perlawanan). Mintalah setiap sub kelompok untuk memilih pembicara yang baru.

6.      Lanjutkan debat dengan mendudukan pembicara secara berhadapan untuk memberikan ‘argumen perlawanan’ secara bergantian. Dorong juga siswa yang duduk di belakang untuk memberikan dukungan pada pembiacarnya.

7.      Jika dianggap cukup, akhiri debat dengan mengajak siswa untuk membentuk lingkaran. Mintalah siswa untuk mendiskusikan apa yang mereka pelajari dari debat. Mintalah juga siswa untuk mengidentifikasi argumen yang terbaik dari kedua kelompok.

 

i.         Rapat desa

Prosedur

1.      Pilih topik atau masalah yang menarik. Jelaskan secara ringkas topik atau masalah tersebut seobjektif mungkin, infomasikan latar belakangnya dan suatu pandangan dari berbagai sudut pandang. Jika diperlukan, sediakan dokumen yang dibutuhkan

2.      Sampaikan pada siswa bahwa kita menginginkan pandangan mereka terhadap topik atau masalah tersebut. Gunakan cara ‘ memanggil pembicara berikut’ untuk menunjuk siswa yang akan mengemukan pendapat. Jika siswa telah selesai menyampaikan pendapat, ia menunjuk temannya yang angkat tangan untuk menyampaikan pendapat.

3.      Mintalah siswa untuk menyampaikan pendapatnya secara ringkas sehingga banyak siswa yang dapat terlibat. Jika perlu beri batasan waktu.

4.      Lanjutkan diskusi sepanjang masih bermakna.

 

j.        Keputusan ‘fishbowl’ tiga langkah

Prosedur

  1. Tentukan tiga masalah yang akan didiskusikan.
  2. Membentuk 3 lingkaran yang sepusat. Salah satu cara adalah dengan meminta siswa secara berurutan membilang 1, 2 dan 3. Siswa yang menyebut 1 berkumpul membentuk lingkaran paling dalam, dilanjutkan lingkaran yang dibentuk oleh siswa yang membilang 2 dan 3. Sampaikan masalah pertama pada lingkaran paling dalam ( siswa yang menyebut 1) untuk didiskusikan dan lingkaran lain mendengarkannya.
  3. Mintalah lingkaran 2 untuk menuju lingkaran 1 dan lingkaran 1 menempati lingkaran 2. Kemudian sampaikan masalah kedua pada lingkaran 2 untuk didiskusikan.
  4. Demikian juga untuk lingkaran 3
  5. Setelah tiga masalah telah didiskusikan, kembalikan ke tempat duduk masing-masing untuk merefleksikan dari diskusi tiga lingkaran tadi.

 

k.      Membaca keras/nyaring

Prosedur

  1. Pilih suatu teks yang cukup menarik untuk dibaca keras.
  2. Sampaikan poin apa yang dikembangkan.
  3. Mintalah siswa untuk membaca satu paragraf dengan suara keras.
  4. Ketika pembacaan berlangsung, hentikan pada beberapa tempat untuk menegaskan beberapa poin, mengajukan pertanyaan atau memberi contoh. Jika siswa tertarik bukalah diskusi singkat.
  5. Uji apa yang tersirat di dalam teks.

Belajar kolaboratif

l.         Study group

Metode ini menuntut tanggung jawab siswa untuk mempelajari materi pelajaran dan untuk menklarifikasi isinya dalam suatu kelompok tanpa kehadiran guru. Tugas harus cukup spesifik untuk meyakinkan bahwa hasilnya efektif dan kelompok dapat dikelola sendiri.

Prosedur

  1. Berikan pada siswa handout, teks singkat atau diagram. Mintalah mereka untuk membaca dalam hati. Study group berjalan yang terbaik jika materinya menantang atau terbuka pada berbagai penafsiran
  2. Bentuklah kelompok dan sediakan ruang yang memadai untuk belajar.
  3. Sediakan petunjuk yang jelas yang dapat membimbing siswa untuk belajar, seperti:
    1. Klarifikasi isi teks
    2. Buat contoh, ilustrasi atau aplikasi dari ide
    3. Identifikasi hal yang membingungkannya atau yang tidak disetujuinya
    4. Nilai seberapa baik memahami materi
  4. Bagilah tugas untuk setiap anggota kelompok seperti fasilitator, pencatat, pembicara, dsb
  5. Kumpulkan kembali dalam kelas dan lakukan satu atau dua hal-hal berikut:
    1. Reviu materi secara bersama-sama
    2. Kuis
    3. Tanyakan pada siswa seberapa bagus mereka menguasai materi.
    4. Sediakan latihan terapan untuk menguji pemahaman mereka.

 

m.     Sortir kartu

Metode ini merupakan kegiatan kolabrasi yang dapat digunakan untuk mengajarkan konsep, klasifikasi karakteristik, fakta atau reviu informasi. Gerak fisik siswa dapat membantu untuk menghidupkan suasana kelas.

Prosedur

  1. Berikan pada setiap siswa satu kartu yang berisi informasi atau sebuah contoh atau karakteristik yang cocok dengan suatu kategori.
  2. Mintalah siswa untuk bergerak bebas di dalam kelas untuk menemukan siswa lain yang kartu-kartunya cocok dalam satu kategori dan berkumpul pada satu bagian dalam ruang kelas. (Siswa dapat mengumumkan sendiri kategori yang dimilikinya kepada siswa-siswa lain)
  3. Beri kesempatan pada siswa untuk mempresentasikan tentang karakteristik atau contoh atau informasi yang ada dalam kelompok/kategori kelompoknya:
  4. Setelah setiap kategori dipresentasikan, buatlah kesimpulan atau penegasan pada hal-hal yang penting.

 

n.       Turnamen

Metode ini merupakan gabungan study group dan kompetisi. Metode ini dapat digunakan untuk mempelajari berbagai materi pelajaran seperti fakta, konsep dan ketrampilan.

Prosedur

  1. Bagilah siswa dalam kelompok sehingga jumalh anggota setiap kelompok sama (jika jumlah anggota kelompok tidak sama, maka guru harus menentukan rata-rata skor)
  2. Sediakan materi pada seluruh kelompok untuk dipelajari bersama.
  3. Kembangkan beberapa pertanyaan/soal/masalah yang menguji secara komprehensif dari materi yang mereka pelajari (Pertanyaan/soal/masalah harus memiliki rubrik penskoran yang jelas sehingga memudahkan penilaian saat turnamen)
  4. Berikan pertanyaan/soal/masalah pada setiap siswa (tahap ini sebagai tahap pertama atau ronde pertama). Masing-masing siswa harus menjawab pertanyaan secara individu.
  5. Setelah siswa menjawab pertanyaan/soal/masalah, diskusikan jawabannya /solusinya kemudian mintalah setiap kelompok untuk menjumlah skor tiap siswa dalam setiap kelompok untuk memperolah skor kelompok. Umumkan skor tiap-tiap kelompok.
  6. Mintalah siswa untuk mempelajari materi pada tahap kedua atau ronde kedua, kemudian berikan pertanyaan/soal/masalah berikunya dan selanjutnya lakukan prosedur yang sama dengan nomor 5.
  7. Hal ini dapat dilakukan untuk beberapa tahap atau ronde tetapi harus diyakinkan bahwa siswa memiliki kesempatan untuk belajar di antara tahap atau ronde.

 

o.      Pangkat dua

Metode ini bermanfaat untuk menekankan keuntungan sinergi yakni bahwa dua kepala adalah lebih baik dari pada hanya satu kepala.

Prosedur

  1. Berilah setiap siswa satu atau lebih pertanyaan/masalah yang membutuhkan pemikiran dan refleksi.
  2. Mintalah setiap siswa untuk menjawab pertanyaan atau menyelesaikan masalah secara individu.
  3. Setelah setiap siswa menyelesaikan jawaban/solusi, mintalah siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan/berbagai jawaban mereka.
  4. Mintalah setiap pasang untuk menyusun jawaban/solusi baru dari masing-masing pertanyaan/masalah yang lebih baik daripada jawaban/solusi masing-masing individu.
  5. Setelah seluruh pasangan telah menyelesaikan jawaban/solusi, bandingkan jawaban masing-masing pasangan secara klasikal.

 

Peer teaching

p.      Group to group exchange

Di dalam metode ini, tugas yang berbeda diberikan pada kelompok yang berbeda. Maisng-masing kelompok kemudia ‘mengajarkan’ apa yang mereka pelajari kepada yang lain.

Prosedur

  1. Pilihlah topik yang meliputi ide, konsep atau pendekatan yang berbeda-beda. Topik ini harus cocok untuk pertukaran pandangan atau informasi.
  2. Bentuklah kelompok sesuai dengan jumlah ide, konsep atau pendekatan yang akan dipelajari/ditugaskan. Berikan tugas pada masing-masing kelompok dan biarkan mereka mendiskusikannya dan menyiapkan untuk presentasi.
  3. Setelah setiap kelompok menyelesaikan persiapan untuk presentasinya, mintalah setiap pembicara masing-masing kelompok untuk mempresentasikan ide, konsep atau pendekatan yang telah dipelajari.
  4. Setelah presentasi/penjelasan, dorongkan siswa untuk mengajukan pertanyaan kepada penyaji atau menyampaikan pendapat mereka terkait dengan ide/konsep/pendekatan yang dijelaskan.
  5. Lanjutkan dengan penyaji kelompok lain untuk mempresentasikan sebagaimana langkah 4 hingga seluruh kelompok mempresentasikan dan diskusi.
  6. Akhiri kegiatan dengan menegaskan ide, konsep atau pendekatan yang telah dipelajari, bandingkan pendapat dari beberapa kelompok bila memungkinkan.

 

q.      Jigsaw

Metode ini mirip dengan group to group exchange dengan satu perbedaan penting yakni setiap siswa mengajarkan yang telah ia pelajari. Metode ini cocok untuk materi yang dapat dipilah dan tidak ada bagian yang membutuhkan prasyarat dari bagian yang lain sehingga setiap siswa mempelajari pelajaran yang bila digabungkan dengan yang diperoleh dari siswa lain akan membentuk pengetahuan atau ketrampilan yang utuh.

Prosedur

  1. Pilihlah materi pelajaran yang dapat dipecah ke dalam beberapa bagian yang berdiri sendiri.
  2. Bentuklah kelompok sehingga jumlah kelompok sama dengan jumlah bagian pelajaran yang akan dipelajari. Misalkan terdapat 40 orang dalam kelas dan terdapat 8 bagian/topik yang akan dipelajari maka bentuklah 8 kelompok dengan cara siswa berhitung 1, 2, 3, 4 dan 5 secara berulang. Yang membilang angka 1 berkumpul menjadi satu kelompok, demikian juga untuk angka 2, 3, 4 dan 5. Kemudian tugaskan setiap kelompok untuk mempelajari atau mendiskusikan satu topik yang berbeda untuk tiap kelompok.
  3. Setelah selesai (masing-masing siswa disebut ahli pada masing-masing topiknya), bentuklah kelompok jigsaw; setiap kelompok beranggotakan dari perwakilan seluruh kelompok sebelumnya. Dari contoh langkah 2, maka kelompok baru dapat dibentuk dengan cara setiap kelompok membilang 1, 2, 3, 4, dan 5. Kemudian yang membilang 1 berkumpul menjadi satu kelompok baru, demikian juga yang membilang 2, 3, 4 dan 5 sehingga terbentuk 5 kelompok jigsaw.  
  4. Mintalah setiap siswa dalam kelompok jigsaw untuk saling mengajar teman lain apa yang telah ia pelajari.
  5. Setelah selesai langkah 6, kemudian reviu untuk meyakinkan setiap siswa memahami seluruh bagian. Hal ini dapat juga dilanjutkan dengan meminta salah seorang siswa untuk menjelaskan apa yang telah ia pelajari dari kelompok jigsaw.

 

r.        Setiap orang adalah guru

Metode ini adalah strategi yang mudah untuk memperoleh partisipasi kelas dan tanggungjawab individu. Metode ini memberikan kesempatan pada setiap siswa untuk berperan sebagai guru untuk siswa yang lain

Prosedur

  1. Berilah setiap siswa sebuah kartu (kertas). Mintalah setiap siswa untuk menuliskan pertanyaan tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari atau topik khusus yang akan didiskusikan di dalam kelas.
  2. Kumpulkan kartu (kertas) yang telah ditulisi pertanyaan dan bagikan secara acak pada setiap siswa (pastikan siswa tidak menerima kartu (kertas)nya sendiri. Mintalah mereka untuk membaca pertanyaan pada kartu dalam hati dan memikirkan tanggapannya.
  3. Undang sukarelawan yang ingin membacakan secara nyaring (keras) kartu yang ia terima dan memberikan tanggapan. 
  4. Mintalah siswa lain untuk menanggapi/menambahkan tanggapan yang disampaikan oleh sukarelawan.
  5. Lanjutkan sampai beberapa sukarelawan (sesuaikan dengan waktu). Akhiri dengan menarik kesimpulan atau hal-hal yang penting.

 

s.       Studi kasus

Metode ini adalah merupakan salah satu metode yang terkait dengan kajian keadaan nyata, tindakan yang harus diambil, hikmah yang dapat diambil dan cara mengatasi keadaan yang tidak diinginkan di masa mendatang. Metode ini memberikan kesempatan pada setiap siswa untuk menciptakan studi kasus secara mandiri

Prosedur

  1. Bagilah kelas dalam pasangan atau kelompok yang anggotanya berjumlah tiga. Mintalah tiap pasangan atau bertiga untuk mengembangkan studi kasus yang secara umum kelas dapat menganalisis dan mendiskusikan.
  2. Tegaskan bahwa tujuan dari studi kasus adalah untuk mempelajari topik yang terkait dengan keadaan nyata atau contoh yang mencerminkan topik tersebut.
  3. Berilah waktu yang cukup pada setiap pasang atau kelompok yang anggotanya berjumlah tiga untuk mengembangkan studi kasusnya. 
  4. Setelah studi kasus selesai, mintalah pasangan atau kelompok yang anggotanya berjumlah tiga untuk mempresentasikan hasil studi kasusunya di depan kelas.
  5. Lanjutkan sampai beberapa pasang atau kelompok yang anggotanya berjumlah. Akhiri dengan menarik kesimpulan atau hal-hal yang penting.

 

t.        Poster

Metode ini merupakan cara yang baik untuk menginformasikan kemajuan siswa secara cepat, menangkap imajinasi siswa dan sebagai sarana untuk bertukar ide di antara mereka. Metode ini juga merupakan cara yang memungkinkan siswa untuk menyatakan persepsi dan feeling mereka tentang topik yang sedang didiskusikan dengan cara yang menyenangkan.

Prosedur

  1. Mintalah setiap siswa untuk memilih topik cukup luas atau unit/bab yang sedang dipelajari.
  2. Mintalah setiap siswa untuk menyiapkan pajangan visual dari konsep mereka dalam bentuk poster. Poster harus yang mampu menjelaskan konsep yang dikandung (pengamat dengan mudah dapat memahami ide tanpa penjelasan lebih lanjut baik tertulis ataupun lisan). Walau demikian, siswa mungkin memilih untuk menyiapkan hand-out yang merupakan penjelasan lebih rinci sebagai referensi untuk melengkapi poster.
  3. Mintalah siswa untuk memajangkan poster mereka pada dinding kelas dan mintalah mereka untuk berbelanja dan mendiskusikannya selama jam pelajaran (biarkan poster tetap terpajang untuk beberapa hari). 
  4. Sebelum pelajaran berakhir diskusikan secara klasikal apa yang mereka temukan yang berharga dari aktivitas ini.

 

Belajar secara mandiri

u.       Action learning (Belajar beraksi)

Metode ini memberikan kesempatan pada siswa untuk mengalami pertama kali secara nyata sebagai penerapan topik pelajaran yang sedang dipelajari. Kegiatan di luar kelas memungkinkan siswa menjadi kreatif dalam membagi pengalamannya.

Prosedur

  1. Kenalkan topik pelajaran pada siswa dengan menjelaskan latar belakang masalah secara kasar dengan ceramah dan diskusi.
  2. Jelaskan bahwa kita akan memberikan kesempatan pada siswa untuk mempraktekkan atau mengalaminya secara nyata atau melakukan kunjungan nyata (misal kunjungan ke pasar, rumah sakit, kantor pos, dsb).
  3. Bentuklah kelompok dengan anggota 4 atau 5 orang. Mintalah mereka untuk mengembangkan daftar pertanyaan atau daftar observasi yang akan digunakan untuk pengalaman nyata atau kunjungan nyata.   
  4. Mintalah mereka untuk mendiskusikan daftar pertanyaan atau daftar observasi dengan teman-teman sekelas.
  5. Daftar pertanyaan atau daftar observasi diperbaiki berdasarkan hasil diskusi kelas, sehingga tiap siswa memiliki daftar pertanyaan atau daftar observasi. (pertanyaan harus operasional/spesifik.
  6. Mintalah setiap siswa untuk melakukan observasi langsung atau kunjungan langsung ke tempat/lokasi dengan daftar pertanyaan atau daftar observasi dalam waktu yang ditentukan.
  7. Setelah selesai kunjungan nyata atau pengalaman nyata, mintalah siswa untuk membagi penemuannya dengan berbagai cara yang kreatif (melalui diskusi panel, interviu, dsb)

 

Belajar untuk pengembangan ketrampilan

v.       Bermain peran

Metode ini memberikan kesempatan pada siswa untuk mengalami pertama kali secara nyata sebagai penerapan topik pelajaran yang sedang dipelajari. Kegiatan di luar kelas memungkinkan siswa menjadi kreatif dalam membagi pengalamannya.

Prosedur

  1. Kenalkan topik pelajaran pada siswa dengan menjelaskan latar belakang masalah secara kasar dengan ceramah dan diskusi.
  2. Jelaskan bahwa kita akan memberikan kesempatan pada siswa untuk mempraktekkan atau mengalaminya secara nyata atau melakukan kunjungan nyata (misal kunjungan ke pasar, rumah sakit, kantor pos, dsb).
  3. Bentuklah kelompok dengan anggota 4 atau 5 orang. Mintalah mereka untuk mengembangkan daftar pertanyaan atau daftar observasi yang akan digunakan untuk pengalaman nyata atau kunjungan nyata.  
  4. Mintalah mereka untuk mendiskusikan daftar pertanyaan atau daftar observasi dengan teman-teman sekelas.
  5. Daftar pertanyaan atau daftar observasi diperbaiki berdasarkan hasil diskusi kelas, sehingga tiap siswa memiliki daftar pertanyaan atau daftar observasi. (pertanyaan harus operasional/spesifik.
  6. Mintalah setiap siswa untuk melakukan observasi langsung atau kunjungan langsung ke tempat/lokasi dengan daftar pertanyaan atau daftar observasi dalam waktu yang ditentukan.
  7. Setelah selesai kunjungan nyata atau pengalaman nyata, mintalah siswa untuk membagi penemuannya dengan berbagai cara yang kreatif (melalui diskusi panel, interviu, dsb)

 

Reading Strategy

Teaching methods:   Reading Skills

 

PRE-READING

 

·  Anticipation Guides

An anticipation guide prepares students to interact in meaningful ways with the selection they will read. The following steps may be used to develop anticipation guides:

  • Identify major concepts, themes, issues, or events in the reading selection.
  • Write three to five statements related to selected concepts, themes, issues, or events that are likely to encourage thought and discussion.
  • Present the statements to the students on an overhead projector or the chalkboard, or as a handout.
  • Allow a few minutes for students to respond individually to each statement by indicating their agreement or disagreement.
  • Engage students in a discussion about the statements and their reactions, asking them to give reasons for their responses.

An example of an anticipation guide follows.

Theme: Sport: Swimming

Sample Anticipation Guide

Please indicate whether you agree or disagree, and provide a reason for your response.

Agree

Disagree

Statement

X

   

Swimming is good for our health.
Reason:.

   

   

Swimming is expensive.
Reason:

   

   

Swimming is only relevant for boys.
Reason:

 

 

 

·  Opinionnaires

Opinionnaires provide opportunities for students to examine their own thoughts about issues or topics they will encounter in the reading selection. An example of an opinionnaire follows.

Sample Opinionnaire

Following is a list of human characteristics, some of which you might consider strengths, others you might consider weaknesses. Put an "S" for the characteristics you consider strengths; put a "W" for the characteristics you consider weaknesses; put "SW" for those you consider to be both strengths and weaknesses. Leave blank any items you consider neither strengths or weaknesses. State reasons for your choices.

Characteristic

Reason

___ curious

 

___ stubborn

 

___ independent

 

___ cautious

 

___ selfish

 

___ honest

 

___ emotional

 

___ inexperienced

 

 

·  Graphic Organizers

As a means of helping students build a schema before reading, have them generate lists of ideas and words related to the key concept. Then organize these ideas graphically to provide a visual construct of ideas. These graphic organizers provide structured overviews which activate and build knowledge prior to reading, and help students make connections among ideas. Some kinds of graphic organizers are semantic maps and Venn diagrams.

Semantic Maps: These categorize ideas and concepts, and visually illustrate the relationships between the ideas and concepts. Semantic mapping may involve the entire class, small groups, or individual students. The following steps may be used to develop semantic maps:

  • Identify a key term or concept in the reading selection that students are required to examine in greater depth.
  • Write the key term or concept on the chalkboard or an overhead transparency, or on a handout.
  • Discuss the term or concept briefly or use pictures and other experiences related to the word to generate discussion.
  • Ask students to suggest or record words, phrases, and ideas that relate to the term.
  • Have students share their word associations and guide the categorizing and mapping of the ideas by recording them on the chalkboard or overhead projector.
  • Discuss the semantic map and encourage students to add to it during and after reading.

Through the mapping and the discussion, the students become aware of what they know. The process of constructing the map is as valuable as the completed map.

An example of a semantic map activity follows.

Sample Semantic Map

Create a semantic map that identifies things related to swimming and list some specific words in each category.

 

 

Oval: Style?  _____________
 

 


           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Venn Diagrams: These present a visual display of similarities between two topics or ideas, and allow students to see the differences. The section of the diagram that overlaps represents the ways in which the two are alike.

Constructing Venn diagrams can be a whole class or small group activity. The following steps may be used to develop a Venn diagram:

  • Identify the key terms or concepts to be compared in the selection.
  • Write the terms in the appropriate sections of the Venn diagram on the chalkboard or an overhead transparency and discuss.
  • Record student-suggested words, phrases, and ideas in the appropriate sections with commonalities listed in the area of overlap.
  • Discuss students' ideas and understandings; then have students read the selection or read it aloud to them.
  • Encourage students to add ideas to the diagram during and after reading.

Through the Venn diagram, students activate prior knowledge and build schemas that will enhance their understanding of the reading selection.

 

During Reading Activities

The following are examples of activities that can support students' reading experiences. Teachers should use and adapt these according to students' needs and interests.

·  Character Map/Sociogram

Character maps, sometimes referred to as sociograms, help students identify traits of particular characters in a selection and recognize the relationship between those characters. An example of a character map follows. The following steps may be used to develop character maps:

·  after reading a portion of the selection, identify at least two main characters for analysis

·  list personality beneath each character's name, enclosing these in a box or circle

·  draw arrows from one character to another, writing phrases above and below the arrows to describe the characters' relationship to each other.

An example of a character map is shown below.

 

 

 

 

 

 

 

Sample Character Map/Sociogram
 

Character Map

 

 

her Uncle Chad? She doesn't seem to like him. I wonder how her uncle will like Zilla? I don't think he will because he seems to want things to be perfect and Zilla is not.
Your Partner

·  Feelings Analysis Chart

Analyzing story characters' feelings assists students in relating to a selection on a social and personal level. The following steps may be used to develop a feelings analysis chart:

·  Have students stop reading briefly and write about what is happening in the story.

·  Ask students to decide: How does the character feel at the end? How do I feel?

·  Repeat the procedure for other events in the story.

 

·  Prediction Points

As students internalize the events of a story, they can begin to make predictions about what will happen next. Asking students to stop at various points during reading to make predictions about upcoming events and issues encourages them to become intuitive readers. The following steps may be used to encourage students to make predictions:

·  Have students stop reading at critical points and predict what may happen next to a certain character, or what may happen as the result of a certain turn of events. As students internalize the process, the teacher can have students choose their own prediction stopping points.

·  Ask students to explain briefly their predictions.

·  Have students provide story clues (e.g., direct quotes) and page numbers to support their predictions.

Post-Reading

Paper Bag Book Talk

A procedure for Paper Bag Book Talks follows.

  • Students decorate a paper bag with representations of ideas and topics from the book to be discussed.
  • Inside the bag, the students place the book and a variety of objects that reflect the ideas in the book and their understanding of and responses to the ideas.
  • During the Book Talk students first explain the ideas reflected by the decorated bag.
  • Following that, they select one item at a time out of the bag and talk about it in relation to the story, making clear how it represents their responses to the book.
  • Teachers can model this technique for students prior to asking them to do one. Remind students not to give away everything about the book; leave some things for other readers to discover.

·  Partner (Dialogue) Journals

Partner journals provide for student interaction. Students respond to a reading selection at various points during their reading and share these responses with a partner, keeping up a written dialogue. This activity encourages reflection, extends thinking about the reading selection, and promotes student interaction. Students may be reading the same or different selections. The following steps may be used for partner journals:

·  Have students record reactions to a particular reading selection or passage (the teacher may prompt students when to stop reading or allow students to choose their own stopping points).

·  Ask students to exchange journals with a reading partner for a response to their ideas and reactions.

An example of a partner journal follows.

Sample Partner Journal

Dear Journal Partner,

I've just finished reading about “Cinderella”.  I think it's very interesting story.  Cinderella is a very lucky girl.

Your Partner

Dear Partner,

Yes, I think it's interesting too, and I like the way Cinderella treats her stepmother and her stepsisters.  Although they were cruel to them, she forgave them and asked them to live in the palace with her. with

Sintaks Model Pembelajaran

TINGKAH LAKU MENGAJAR (SINTAKS) DALAM MODEL PENGAJARAN   LANGSUNG

FASE  - FASE

PERILAKU GURU

Fase 1

Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa

 

Guru menyampaikan tujuan, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.

Fase 2

Mendemonstrasikan pengetahuan / ketrampilan

 

Guru mendemonstrasikan ketrampilan yang benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap.

Fase 3

Membimbing pelatihan

 

Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal.

Fase 4

Mengecek pemahaman siswa dan memberikan umpan balik

 

Mencek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik.

Fase 5

Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan.

 

Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.

 


SINTAKS DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF

 

FASE- FASE

TINGKAH LAKU GURU

Fase 1

Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa

Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai danmemotivasi siswa

Fase 2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan

Fase 3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

 

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan embantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien

Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka

Fase 5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya

Fase 6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu atau kelompok

 


SINTAKS MODEL PBI

FASE-FASE

TINGKAH LAKU GURU

Fase 1

Orientasi siswa kepada masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih

Fase 2

Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Guru membantu siswa mendefinisikan dan me ngorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

Fase 3

Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan Dan pemecahan masalah

Fase 4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagai tugas dengan temannya

Fase 5

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan