01/24/2009

FORMAT OBSERVASI KEGIATAN GURU

FORMAT OBSERVASI KEGIATAN GURU

DALAM PELAKSANAAN KBM

 

Nama Sekolah                    :  ……………………………    Siklus ke    :  …………….

Kelas / Semester                :  ……………………………    Hari            :  …………….

Konsep                              :  ……………………………    Tanggal      :  …………….

 

 

No

KEGIATAN

Ada

Frek

Persen

 

A. Kegiatan Pendahuluan

 

 

 

1.

Guru membagi Konsep menjadi bagian-bagian sesuai dengan jumlah kelompok kecil

 

 

 

2.

Guru membentuk kelompok kecil

 

 

 

3.

Guru menyiapkan alat Bantu yang diperlukan siswa

 

 

 

4.

Guru menyiapkan LKS siswa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B. Kegiatan Pokok

 

 

 

1.

Guru menjelaskan tugas dari masing-masing anggota kelompok

 

 

 

2.

Guru memberi pengarahan kepada kelompok dan membimbing jalannya pembelajaran

 

 

 

3.

Guru mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan ke penyaji kelompok

 

 

 

4.

Guru membimbing siswa untuk mempresentasikan hasil kelompok

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C. Kegiatan Penutup

 

 

 

1.

Guru menerima hasil kerja kelompok kecil

 

 

 

2.

Guru menyelenggarakan tes yang mencakup materi satu Bab

 

 

 

3.

Guru memberikan penghargaan mingguan

 

 

 

 

 

 

 

 

Catatan :

………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………

 

Jombang, ……………………… 2006

Guru yang diteliti                                                           Pengamat,

 

 

 

……………………………….                                   ………………………………….

Angket dan lembar Observasi

FORMAT WAWANCARA KEPADA SISWA

 

 

Pertanyaan – Pertanyaan :

1.      Apakah siswa mengalami kesulitan memahami petunjuk baik arahan dari guru atau petunjuk dalam LKS?

............................................................................................................................

2.      Pada saat mengalami kesulitan apakah siswa berusaha bertanya kepada teman lain atau kepada guru ?

      ............................................................................................................................

3.      Apakah bimbingan guru selalu dibutuhkan siswa agar dapat memahami materi pelajaran ?

      ............................................................................................................................

4.      Apakah siswa mempunyai buku paket atau referensi yang berhubungan dengan materi yang sedang dibahas ?

      ............................................................................................................................

5.      Apakah siswa selalu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya ?

      ............................................................................................................................

6.      Apakah materi pelajaran dirasakan siswa tidak ada manfaatnya dalam kehidupannya kelak ?

      ............................................................................................................................

7.      Apakah siswa diluar jam ataupun dirumah berusaha belajar dengan teman yang lain?

      ............................................................................................................................

8.      Apakah menurut siswa lingkungan disekolah (didalam dan diluar kelas) kondusif untuk belajar ?

      ............................................................................................................................

9.      Apakah orang tua siswa di rumah menyuruh untuk belajar ?

      ............................................................................................................................

10.  Apakah siswa mempunyai keinginan untuk keluar dari kesulitan yang dihadapinya ?

      ............................................................................................................................

Belajar Kelompok

Belajar Kelompok

 

(Waktu: 60 – 75 menit)

 

A. PENGANTAR

 
 

 

 


Belajar kelompok atau disebut juga kerja kelompok adalah bagian dari pengelolaan siswa dalam kegiatan pembelajaran PAKEM. Mengapa belajar secara aktif, kreatif, dan menyenangkan perlu bervariasi, baik dari segi penyediaan materi atau sumber belajar maupun pengelolaan belajarnya? Anak akan merasa bosan jika mereka belajar dalam suasana monoton. Kegiatan belajar mengajar perlu memberikan pengalaman belajar yang beragam agar kegiatan belajar tetap menyenangkan dan menantang. Kegiatan  membaca dan menuliskan gagasan pribadi misalnya perlu dikerjakan secara individual,  latihan berdialog dengan belajar berpasangan, berdiskusi untuk memecahkan masalah perlu kerja kelompok, dan klasikal untuk mendengarkan penjelasan guru. Demikian pula belajar tidak selamanya harus di dalam kelas. Kadang-kadang mereka perlu belajar di luar kelas untuk melakukan pengamatan atau mencari suasana lain yang lebih nyaman dan lebih leluasa, apalagi jika jumlah siswa di dalam kelas terlalu banyak. 

 

 

B. TUJUAN

 

 

 

Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta:

 

1.      menjelaskan apa yang dimaksud dengan belajar kelompok dan mengapa anak perlu dilatih belajar berkelompok.

2.      mampu membuat pengelompokan belajar yang tepat (disesuaikan dengan topik dan materi yang akan diajarkan, serta kompetensi apa yang akan dikembangkan dalam diri anak )

3.      mampu mengembangkan gagasan pengelompokan yang lain yang membuat hasil belajar lebih maksimal dan efektif

4.      mampu mengidentifikasi kegiatan belajar yang cocok untuk belajar kelompok dan yang tidak.

 

 

C. BAHAN DAN ALAT BANTU

 
 

 

 

 


1.      Spidol untuk dijadikan sumber merumuskan pertanyaan

2.        Beberapa lembar transparansi dan pena

D. LANGKAH PEMBELAJARAN

 
 

 

 

 


Langkah-langkah pembelajaran dalam pertemuan ini secara diagramatik

digambarkan sebagai berikut:

(15’)                                                        (40’)                                                        (20’)

Pleno: Apa, Meng apa, & Bagaimana Belajar Kelompok

 

Kerja kelompok: mengidentifikasi +/- Belajar Kelompok

 

Pleno: Pembahasan dan Kesimpulan

 
 

 

 


(1)   Pleno: Pengantar (15’)

Fasilitator menjelaskan tentang apa, mengapa, dan bagaimana belajar kelompok (Bahan terlampir)

 

·        Fasilitator mengawali kegiatan dengan mengajukan pertanyaan, apa yang diketahui oleh peserta tentang belajar kelompok karena ini bukan hal baru dalamCTL. Lalu mengapa anak perlu belajar kelompok, apakah semua kegiatan pembelajaran dapat dilaksanakan dengan belajar kelompok, dan meminta beberapa peserta untuk menceritakan pengalaman mereka melaksanakan kegiatan belajar atau kerja kelompok, termasuk suka dukanya.

 

Fasilitator meminta peserta untuk duduk berkelompok dan memberi tugas:

_       Mengidentifikasi kegiatan belajar apa saja yang seharusnya dilakukan secara berkelompok dan yang tidak.Hasil diskusi ditulis dalam tabel berikut:

 

Pengelolaan Pembelajaran

Kegiatan yang dilakukan siswa

Kerja secara individual/ perorangan

Membuat maket sekolah (model)

Kerja secara berpasangan

 

Simulasi dialog

Kerja Kelompok

 

Menuliskan pengalaman pribadi

 

·        Peserta melaporkan hasilnya, kelompok lain menanggapi dan menambahkan keterangan yang belum lengkap.  

 

Fasilitator meminta peserta untuk mengidentifikasi segi positif dan negatifnya belajar kelompok dan klasikal, kemudian  memasukkannya ke dalam tabel sehingga mudah dilihat untuk dikomentari.

 

Belajar Kelompok:

Positif

Negatif

 

 

 

 

Belajar Klasikal:

Positif

Negatif

 

 

 

 

(2)   Kerja Kelompok (20’)

·        Dalam kelompok 5 orang, peserta:

Menuliskan sebanyak mungkin segi positif dan negatif belajar atau kerja kelompok

 

 

(3)   Pleno: Pelaporan (20’)

                 Melaporkan hasil yang ditulis dalam transparansi, kelompok lain   

                 menambahkan dan menanggapi yang tidak jelas.  Fasilitator bersama-sama peserta menyimpulkan isi sesi tentang Belajar Kelompok.

Belajar Kelompok

 

Belajar kelompok mempunyai tujuan utama agar anak dapat bersosialisasi dan bekerjasama, terutama untuk kegiatan yang memerlukan pemecahan masalah bersama, seperti melakukan percobaan, berdiskusi, bermain peran,  juga untuk mendorong agar anak pemalu dan penakut mau berbicara. Anak-anak ini akan merasa aman jika berbicara dalam kelompok kecil daripada secara klasikal. Melatih anak belajar kelompok, berarti juga menyiapkan anak untuk menjadi dewasa yang bisa bekerjasama dengan orang lain. Dalam kenyataan hidup yang membuat manusia sukses adalah kemampuannya menerapkan kecerdasan untuk bekerjasama dengan orang lain dalam mencapai tujuan bersama. Lebih-lebih dalam masyarakat modern, kemampuan bekerjasama semakin penting dan mutlak dibutuhkan (Schmuck,1985). Sebagai ilustrasi, terwujudnya sebuah gedung yang megah merupakan hasil kerjasama berbagai teknisi ahli.  

 

Perlu diperhatikan bahwa tidak semua kegiatan pembelajaran cocok dilakukan dengan belajar kelompok. Jika topik/materi merupakan masalah yang harus dipecahkan bersama atau berupa lembar kerja yang harus dikerjakan melalui percobaan bersama, atau kegiatan bermain peran beberapa orang, ini memang memerlukan kegiatan atau belajar kelompok. Namun, jika materi hanya memerlukan dialog atau menulis percakapan dua orang, yang tepat adalah kerja pasangan, juga menulis karangan pengalaman pribadi yang cocok adalah kerja individual.

 

Ada beberapa cara pengelompokan yang dapat dilakukan guru, misalnya berdasarkan kemampuan, jenis kelamin, atau campuran. Setiap jenis pengelompokan tentu mengandung segi positif dan negatif, tergantung bagaimana guru melaksanakannya, termasuk mengetahui mengapa guru mengelompokkan berdasarkan kemampuan, dengan alasan misalnya agar mereka dapat berdiskusi secara efektif, berdasarkan jenis kelamin agar mereka dapat membahas topik dengan lebih terbuka dalam kelompok sejenis, dan sebagainya. Adapun yang penting diperhatikan oleh guru adalah bagiamana belajar kelompok dapat memaksimalkan hasil belajar semua anak dengan kemampuan dan minat yang beragam itu.

 

Selain itu, guru perlu mengetahui duduk berkelompok tidak sama dengan belajar kelompok. Duduk bisa dalam kelompok, tetapi setiap siswa mengerjakan tugas individual seperti mengerjakan latihan matematika atau mengarang. Namun, juga bisa anak-anak duduk dalam kelompok dan bekerja kelompok seperti melakukan percobaan IPA, berdiskusi untuk memecahkan masalah bersama. Sekali lagi tujuan belajar kelompok, selain meningkatkan sosialisasi, juga melatih siswa bekerjasama, mampu berinteraksi dengan teman lain, berdiskusi dengan tidak memaksakan kehendak/toleransi dan berargumentasi dengan akal sehat/masuk akal, atau secara umum mengembangkan kemampuan intelektual karena anak harus melakukan proses berpikir.

 

Jika hari ini anak mampu bekerjasama, esok dia akan mampu mengerjakan sesuatu secara mandiri. Kerjasama melalui belajar kelompok di mana anak saling berinteraksi dengan bertanya dan mengemukakan pendapat adalah fondasi sukses di kemudian hari. Berbicara (talk) adalah sentral untuk pengembangan sosial dan pertumbuhan intelektual (Vygotsky, 1962) 

 

Belajar melalui berbicara sama dengan belajar bicara, anak aktif membangun pengetahuannya sendiri (Wells, 1987)

 

Kesimpulan umum:

Dengan anak terlatih berbicara, berdiskusi, berargumentasi, merencanakan sesuatu bersama dalam kegiatan belajar sehari-hari di sekolah, anak akan memiliki keterampilan siap pakai, misalnya untuk melakukan wawancara saat mencari kerja, kritis melihat dan memecahkan permasalahan sesuai situasi, lebih berani dan terampil memimpin rapat atau pertemuan, mampu menengahi perbedaan pendapat dengan memberikan argumentasi yang seimbang untuk kedua belah pihak, mampu menyerap dan menyaring informasi secara kritis, mampu membuat hipotesis, dan berbicara secara efektif.  

 

 

Pembelajaran  secara klasikal (kelompok besar)[1]

 

Keuntungan

Kerugian (mungkin)

-    alat efisien untuk ceramah, film dan demonstrasi

-    mengembangkan rasa aman dan “saya berada dalam kelompok”

-    mempermudah untuk pengajaran konsep baru

-    meningkatkan otoritas guru

-    mengesankan hanya satu sumber belajar

 

 

 

 

-    mengurangi tanggung-jawab individu

-    mengesampingkan kebutuhan individu dan kebutuhan kelompok besar

-    menghambat variasi pembelajaran

-    menghambat partisipasi sosial

-    meningkatkan masalah fisik (penglihatan, pendengaran)

-    mengurangi keterlibatan dalam tugas/kegiatan

 

-           

 

Pembelajaran secara kelompok kecil

Keuntungan

Kerugian (mungkin)

-       mempermudah komunikasi

-       meningkatkan interaksi

-       mendorong keterlibatan

-       mendorong untuk membantu orang lain dan menerima tanggung-jawab

-       melatih kemampuan bernegosiasi

-       mengembangkan kemampuan mengambil keputusan

-       mengembangkan rasa perlu berbagi pendapat

-       meningkatkan kerjasama

-       memungkinkan variasi pembelajaran

-       guru berkesempatan untuk mengamati, mendengarkan dan mendiagnosis siswa

-        

-       membuat siswa tidak bergairah

-       membuang waktu jika kemampuan bekerja kelompok kurang

-       membuang waktu jika mengenalkan konsep baru

-       mengesampingkan kebutuhan anak pandai dan kurang dari kebutuhan kelompok

-       mengesampingkan penguasaan materi dari ketrampilan kerja kelompok

-       anak pandai mendominasi anak kurang

 



[1] Sumber: Kasim Lemlrch J (1990), Curriculum and Instructional Methods for Elementary and Midle School, New York Macmillan College Publishing Co.