01/11/2009
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS BAHASA INDONESIA
OPTIMALISASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PRAKTIK “BERKOMUNIKASI MELALUI TELEPON”
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sebagaimana telah maklum bahwa salah satu kelemahan sistem pembelajaran di sekolah kita adalah masalah kultur, terutama kultur guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran di depan kelas. Metode mengajar guru yang masih mengandalkan metode ceramah, potensial melahirkan output yang kurang percaya diri. Output yang selalu diliputi rasa takut, ragu-ragu dan malu. Secara khusus takut melakukan kesalahan (Kiyosaki, 2002 : 13).
Rasa takut, ragu-ragu dan malu ini menjadi semakin akut setelah mendapat respon yang negatif dari lingkungannya, baik siswa lain atau bahkan guru. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Jack Canfield (dalam Bobby DePorter, 1999 : 24) yang menyimpulkan bahwa siswa kita rata-rata mendapat komentar negatif 6 kali lebih banyak dibanding komentar positif. Komentar negatif, baik berupa kritik, cercaan, dll. Terbukti efektif merusakkan rasa percaya diri siswa kita. Dalam survey yang penulis lakukan dalam pembelajaran “praktik berkomunikasi melalui telepon”, terbukti lebih dari 70% siswa mengaku merasa masih diliputi rasa takut, selebihnya masih merasa ragu-ragu dan malu. Secara khusus takut terhadap kritik dari orang lain. Hal ini berakibat rendahnya motivasi dan rasa percaya diri siswa, dan selanjutnya terhadap rendahnya prestasi belajar siswa.
Kultur masyarakat kita masih belum dapat menghargai kesalahan berbuat sebagai pelajaran berharga malah sebaliknya dianggap berdosa. Padahal seharusnya, masih menurut Kiyosaki, yang harus dianggap berdosa adalah orang yang tidak pernah berbuat kesalahan, karena ia tidak pernah mencoba, sehingga tidak pernah mendapat pelajaran. Jadi masalahnya adalah bagaimana menangani emosi siswa pada saat belajar, agar siswa kita merasa senang, bahagia dan tidak takut, ragu-ragu dan malu dalam belajar.
Untuk mengatasi masalah emosi tersebut, penulis ingin mencoba mengatasi dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif. Karena dalam pembelajaran kooperatif, siswa dilibatkan secara aktif untuk berperan serta atau ikut andil dalam proses belajar. Pembelajaran kooperatif berarti belajar dalam kelompok-kelompok yang hiterogen anggotanya. Keberhasilan dalam kelompok sangat dipentingkan dalam pembelajaran ini. Karena itu siswa yang lemah akan mendapatkan bantuan dari siswa yang lebih pandai. Sebaliknya siswa yang lebih pandai dapat mengembangkan kemampuannya dengan mengajarkan materi pelajaran kepada siswa yang lebih rendah kemampuannya (Ibrahim, Muslimin, dkk., 2000).
Masih mengenai pembelajaran kooperatif, menurut penelitian Slavin ( dalam Nur, 2000), disebutkan bahwa secara konsisten pembelajaran kooperatif menunjukkan keunggulan dibanding pembelajaran individual. Hal ini memberi pelajaran bagi kita bahwa keterbatasan manusia harus diatasi dengan bersinergi atau bekerjasama dengan orang lain untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dan inilah letak pentingnya berkerjasama, atau kooperatif.
Adapun pembelajaran kooperatif yang hendak penulis terapkan adalah tipe STAD (Student Team Achievement Division). Tipe ini tidak hanya unggul dalam membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang sulit, tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kemampuan bekerjasama, kreatif, berfikir kritis dan siswa terlibat aktif secara mental ataupun fisik. Siswa lebih berani untuk mengemukakan ide atau pendapatnya melalui diskusi interaktif, baik antar siswa maupun siswa dengan guru dalam kelompok yang terbatas.
Berdasarkan analisa masalah tersebut, penulis ingin mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul :
OPTIMALISASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PRAKTIK
“BERKOMUNIKASI MELALUI TELEPON”
PADA SISWA KELAS
SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2007-2008
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan permasalahannya yaitu sebagai berikut :
1. Apakah penerapan model pembelajaan kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan keaktifan dan motivasi belajar siswa (mengurangi rasa takut, malu dan ragu-ragu) pada praktik berkomunikasi melalui telepon siswa kelas I
05:38 Permalink | Comments (2) | Email this | Tags: penelitian pendidikan
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS BAHASA INDONESIA
Penerapan Adaptasi dan Modifikasi Model Pembelajaran Kemp & Instructional Development Institute (IDI) dalam Pembelajaran Kompetensi berbicara dengan Pendekatan Bercerita/Mendongeng untuk Meningkatkan Hasil Belajar
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dari pengalaman bertahun-tahun melaksanakan tugas profesi, dan menghadapi beragam tipe siswa per kelas, seorang guru dapat mereka-reka dan memformulasi cara yang pas dalam mengajarkan suatu materi pelajaran, bahkan mereka dapat menemukan cara yang lebih baik, lebih efektif, lebih cepat, lebih taktis, atau lebih bermakna dalam proses pembelajaran suatu materi pelajaran.
Penemuan yang individual ini, tentu akan mempermudah pelaksanaan tugasnya dan lebih menjamin hasil belajar yang memuaskan pada para siswa. Pengalaman berhasil dengan satu cara, pendekatan, atau teknik pengajaran, bahkan dapat menjadi formula yang bisa dibagi kepada rekan seprofesi pada bidang keilmuan yang sama, baik di satu lembaga pendidikan, antar sekolah, maupun antar daerah dan bahkan antar negara. Singkat cerita, sesepele apapun sebuah inovasi pengajaran, hal itu menandakan bahwa seorang guru berdenyut, sebuah kelas bernafas, dan lokomotif pendidikan–meski mungkin perlahan, tetap bergerak ke tujuan. Pendidikan dan pembelajaran bukan sebuah aktifitas yang stagnan.
Peneliti sebagai seorang guru, dalam melaksanakan tugas profesi merasakan pula cobaan dan kesulitan yang sama seperti yang dialami rekan-rekan seprofesi: kondisi sekolah dan sarana yang menggenaskan, siswa-siswa yang menggemaskan datang dari latarbelakang yang mencemaskan, atau income sering melemaskan itu. Semua sudah kita hadapi dengan lapang hati.
Yang sering kita abaikan untuk dihadapi dengan sedikit lebih serius adalah kelas, siswa, dan bidang studi kita sendiri. Kesulitan dan tantangan mendasar dalam tugas profesi seorang guru di antaranya ada di sana; di antara empat dinding dan atap kelas kita.
Di malam hari, seorang guru memikirkan apa yang dia ajarkan besaok, dan bagaimana cara agar proses pembelajaran berjalan lancar sehingga mencapai tujuan. Persiapan materi dan bahan pun dilakukan. Dia juga mempersiapkan strategi dan teknik yang akan diterapkan besok di kelasnya.
Pembelajaran berarti pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru. Pembelajaran mencakup pemilihan, penyusunan, dan penyampaian informasi dalam suatu lingkungan yang sesuai.
Dalam proses pembelajaran tercakup juga pengajaran. Pengajaran adalah susunan informasi dan lingkungan untuk memfasilitasi pembelajaran. Lingkungan tidak hanya tempat yang digunakan saat pengajaran berlangsung tetapi juga metode, media, dan peralatan yang dibutuhkan untuk menyampaikan informasi dan bimbingan terhadap proses belajar siswa. Jika pembelajaran bertumpu pada kegiatan bagaimana siswa belajar, maka pengajaran bertumpu pada kegiatan bagaimana guru mengajar.
Peranan guru sangat penting dalam perencanaan dan proses pembelajaran. Istilah proses pembelajaran disebut juga kegiatan instruksional. Langkah-langkah kegiatan ini menyangkut bagaimana penyajian materi pelajaran supaya siswa dapat mencapai tujuan instruksional yang sudah dirumuskan. Jadi, kegiatan instruksional dimulai setelah guru merumuskan tujuan instruksional. Kemungkinan pertanyaan yang muncul setelah merumuskan tujuan instruksional adalah: Apa harus dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran esok?
R.D. Conners (1980) mengidentifikasikan tiga tahap tugas guru, yang meliputi:
1) Sebelum pengajaran (meliputi program satuan pelajaran, perencanaan program mengajar);
2) Pengajaran, yaitu berlangsungnya interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa baik secara individu maupun kelompok;
3) Sesudah pengajaran, antara lan menilai kinerja siswa, mengevaluasi kembali pelaksanaan proses belajar-mengajar yang telah berlangsung.
Wilbur Schramm (1984) mengemukakan bahwa kegiatan instruksional ialah semua yang harus dikerjakan guru setelah ia merumuskan tujuan instruksional dengan jelas dan menentukan titik permulaan siswa pada saat pelajaran dimulai.
Semua yang disebutkan tadi merupakan tantangan harian seorang guru bidang studi dalam pelaksanaan tugasnya. Mutu pendidikan secara prinsip sebenarnya bermula dari seberapa serius seorang guru mempersiapkan hal ini. Akan tetapi, sejumlah faktor penghambat dan penyulit selalu saja ada pada proses tersebut.
Sebagai seorang guru bidang studi Bahasa Indonesia, kadang peneliti mengalami betapa sulitnya menaklukan satu kompetensi dasar dari materi pelajaran yang harus diajarkan. Contohnya, meski tak satupun siswa yang bisu sungguhan, akan tetapi membuat siswa menguasai satu dari empat kompetensi dasar berbahasa, yaitu berbicara betapa sukarnya.
Dalam situasi formal di sekolah, komunikasi di dalam kelas sering hanya berlangsung satu arah; guru mengoceh dan para siswa mencatat atau menjadi pendengar pasif. Ruang-ruang kelas kita seperti ruang interogasi. Pantas kiranya, siswa-siswa kita lemah pada sejumlah kompetensi dasar seperti, menulis, membaca, berbicara, dan berhitung, karena rupanya mereka lebih banyak mengandalkan indera dengarnya.
Cukup mengherankan, diluar kelas--misalnya pada jam istirahat, terdengar para siswa “berkicau” sedemikian gempita. Akan tetapi, ketika jam pelajaran berbicara, burung-burung itu seperti tercekat di tenggorokan masing-masing siswa. Ada apakah gerangan?
Jalaluddin Rakhmat dalam Retorika Modern Pendekatan Praktis (2000:15) mengungkap bahwa dewasa ini retorika, baik sebagai public speaking, oral communication, atau speech communication, diajarkan dan diteliti secara ilmiah di lingkungan akademis. Dr. Charles Hurst mengadakan penelitian tentang pengaruh speech course terhadap prestasi akademik mahasiswa. Hasilnya membuktikan bahwa ada pengaruh cukup berarti. Mahasiswa yang memperoleh pelajaran berbicara (speech group) mendapat skor yang lebih tinggi dalam tes belajar dan berpikir, lebih terampil dalam studi dan lebih baik dalam prestasi akademiknya dibandingkan mahasiswa yang tidak memperoleh pelajaran itu. Hurst menyimpulkan:
Data penelitian ini menunjukkan dengan jelas bahwa kuliah speech tingkat dasar adalah agen synthesa, yang memberikan dasar skematis bagi mahasiswa untuk berpikir lebih teratur dan memperoleh penguasaan yang lebih baik terhadap aneka fenomena yang membentuk kepribadian.
............................. dst hub. via sms di 081913127080
04:24 Permalink | Comments (2) | Email this | Tags: penelitian pendidikan
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS BIOLOGI
PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR IPA
SISWA KELAS IX G SMP NEGERI
ABSTRAK
xxxxxx. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Make a Match untuk Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar IPA Biologi pada Siswa Kelas IX SMPN . Laporan Penelitian Tindakan Kelas.
Kata kunci. Minat, kooperatif, Make a match
Berdasarkan data lapangan, siswa lebih banyak yang suka diajarkan meng¬gunakan model pembelajaran konvensional, siswa yang sering menjawab pertanyaan guru hanya siswa yang pandai saja, siswa yang tidak pandai tidak berusaha menjawab dan tidak berani bertanya kepada guru, siswa tidak suka bekerjasama dengan temannya walaupun telah dianjurkan oleh guru. Data tersebut merupakan bagian dari indikator kurangnya minat belajar siswa.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Penerapan Pembelajaran Kooperatif Learning Model Make a match dapat Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas IX SMPN .
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam 2 siklus. Dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran kooperatif model Make a match dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas IX SMP Negeri pada materi Pertumbuhan dan Perkembangan. Peningkatan minat ini diketahui berdasarkan hasil pengamatan minat oleh observer yang menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari indikator-indikator minat yakni frekuensi bertanya meningkat 28,40%, kualitas pertanyaan meningkat sebesar 26,32%, kerjasama meningkat 3% dari 89,8% menjadi 92,8%, dan pemanfaatan sumber belajar meningkat sebesar 71,15%. Peningkatan minat juga dapat diketahui dari hasil angket minat siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan sintaks model pembelajaran Make a match menunjukkan rata-rata 95,45% siswa mengikuti kegiatan sesuai sintaks pembelajaran, dan peningkatan hasil belajar baik nilai rata-rata kelas, persentase ketuntasan belajar maupun peningkatan nilai secara individual.
Saran yang dapat dikemukakan adalah diharapkan kepada pengajar untuk menggunakan model pembelajaran Make a match pada materi pertumbuhan dan perkembanga karena model pembelajaran ini terbukti meningkatkan minat belajar dan prestasi belajar siswa. Pembagian kelompok dalam dua kelompok besar sebaiknya dimodifikasi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan anggota antara 4-5 orang supaya pembelajaran menjadi lebih efektif.
Bagi peneliti lain yang ingin menggunakan model pembelajaran Make a match, sebaiknya meneliti dua hal sekaligus yakni peningkatan minat belajar dan peningkatan prestasi belajar, karena terbukti model pembelajaran Make a match dapat meningkatan minat dan prestasi belajar siswa.
04:02 Permalink | Comments (23) | Email this | Tags: penelitian pendidikan

