01/26/2009

RME

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A.     REALISTIC MATHEMATIC EDUCATION (RME)

Realistic Mathematic Education (RME) telah lama dikembangkan di Nedherlands (Belanda). RME tersebut mengacu pada pendapat Freudenthal yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktifitas manusia. Ini berarti harus dekat dengan anak dan relevan dengan situasi sehari-hari. Matematika sebagai aktifitas manusia maksudnya manusia harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika.

Prinsip atau ide yang mendasari Realistic Mathematic Education (RME) adalah situasi dimana siswa diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide-ide matematika. Berdasarkan situasi realistik, siswa didorong untuk mengkontruksi sendiri masalah realistik, karena masalah yang dikontruksi oleh siswa akan menarik siswa lain untuk memecahkannya.

Menurut Treffers (1991) ada dua jenis matematisasi yaitu matematisasi horisontal dan vertikal. Dalam matematika horisontal siswa menggunakan matematika untuk mengorganisasikan dan menyelesaikan masalah yang ada pada situasi nyata. Contoh matematisasi horisontal adalah : pengidentifikasian, perumusan dan pemvisualan masalah dalam cara-cara yang berbeda, merumuskan masalah kehidupan sehari-hari ke dalam bentuk matematika. Sedangkan matematisasi vertikal berkaitan dengan proses pengorganisasian kembali pengetahuan yang telah diperoleh dalam simbol-simbol matematika yang lebih abstrak. Contoh matematisasi vertikal adalah menghaluskan dan memperbaiki model, menggunakan model yang berbeda, memadukan dan mengkombinasikan beberapa model, membuktikan keteraturan, merumuskan konsep matematika yang baru dan penggeneralisasian.

Dalam RME kedua matematisasi horisontal dan vertikal digunakan dalam proses belajar mengajar. Treffers (1991) mengklasifikasikan empat pendekatan pembelajaran matematika yaitu, mekanistik, emperistik, strukturalis dan realistik.

Mekanistik lebih memfokuskan pada drill, emperistik lebih menekankan matematisasi horisontal, strukturalis lebih menekankan pada matematisasi vertikal, sedangkan realistik memberikan perhatian yang seimbang antara matematisasi horisontal dan vertikal dan disampaikan secara terpadu pada siswa.

Sedangkan menurut Streefland (1991) prinsip utama dalam belajar mengajar yang berdasarkan pada pengajaran realistik adalah :

1)     Constructing and Concretizing

Pada prisip ini dikatakan bahwa belajar matematika adalah aktivitas konstruksi. Karakteristik kontruksi ini tampak jelas dalam pembelajaran, yaitu siswa menemukan sendiri prosedur untuk dirinya sendiri. Pengkontruksian ini akan lebih menghasilkan apabila menggunakan pengalaman dan benda-benda konkret.

2)      Levels and Models

Belajar konsep matematika atau ketrampilan adalah proses yang merentang panjang dan bergerak pada level abstraksi yang bervariasi. Untuk dapat menerima kenaikan dalam level ini dari batas konteks aritmatika informal sampai aritmatika formal dalam pembelajaran digunakan model supaya dapat menjembatani gap antara konkret dan abstrak.

3)      Reflection dan Spesial Assignment

Belajar matematika dan kenaikan level khusus dari proses belajar ditingkatkan melalui refleksi. Penilaian terhadap seseorang tidak hanya berdasarkan pada hasil saja, tetapi juga memahami bagaimana proses berfikir seseorang. Perlu dipertimbangkan bagaimana memberikan penilaian terhadap jawaban siswa yang bervariasi.

4)      Social context and inteaction

Belajar bukan hanya merupakan aktivitas individu, tetapi sesuatu yang terjadi dalam masyarakat dan langsung berhubungan dengan konteks sosiokultural. Sehingga di dalam belajar, siswa harus diberi kesempatan bertukar pikiran, adu argumen dan sebagainya.

5)      Structuring and Interwining

Belajar matematika tidak hanya terdiri dari penyerapan kumpulan pengetahuan dan unsur-unsur ketrampilan yang tidak berhubungan, tetapi merupakan kesatuan yang terstruktur. Konsep baru dan obyek mental harus cocok dengan dasar pengetahuan yang lebih besar atau lebih kecil, sehingga dalam pembelajaran diupayakan agar ada keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.

Proses yang berhubungan dalam berfikir dan pemecahan masalah ini dapat meningkatkan hasil mereka dalam masalah ini.

Comments

sangat membantu

arigatou...

thank you . . .

terima kasih . . .

matur sembah nuwun . . .

Posted by: aikiori | 05/13/2009

Post a comment