01/24/2009

Ketuntasan Belajar

1.      Ketuntasan Belajar

Konsep ketuntasan belajar didasarkan pada konsep pembelajaran tuntas. Pembelajaran tuntas merupakan istilah yang diterjemahkan dari istilah“mastery Learning”. Nasution, S (1982: 36) menyebutkan bahwa mastery learning atau belajar tuntas, artinya penguasaan penuh. Penguasaan penuh ini dapat dicapai apabila siswa mampu menguasai materi tertentu secara menyeluruh yang dibuktikan dengan hasil belajar yang baik pada materi tersebut. Nasution, S (1982: 38) juga menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi penguasaan penuh, yaitu: (1) bakat untuk mempelajari sesuatu, (2) mutu pengajaran, (3) kesanggupan untuk memahami pengajaran, (4) ketekunan, (5) waktu yang tersedia untuk belajar. Kelima faktor tersebut perlu diperhatikan guru, ketika melaksanakan pembelajaran tuntas. Sehingga siswa dapat mencapai ketuntasan belajar sesuai kriteria yang telah ditetapkan.

 Block, James H. (1971: 62) menyatakan bahwa mastery learning dapat memberikan semangat pada pembelajaran di sekolah dan dapat membantu mengembangkan minat dalam pembelajaran tersebut. Pembelajaran yang berkesinambungan ini harus menjadi tujuan utama dalam pendidikan yang modern. Ciri-ciri pembelajaran tuntas antara lain: (1) pendekatan pembelajaran lebih berpusat pada siswa (child center), (2) mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan siswa (individual personal), (3) strategi pembelajaran berasaskan maju berkelanjutan (continuous progress), (4) pembelajaran dipecah-pecah menjadi satuan-satuan (cremental units) (KTSP SDN Sumberkembar 02, 2007).

 Dalam pembelajaran tuntas seorang siswa yang dapat mempelajari unit pelajaran tertentu dapat berpindah ke unit satuan pelajaran berikutnya jika siswa yang bersangkutan telah menguasai secara tuntas sesuai standar ketuntasan belajar minimal yang telah ditentukan oleh sekolah. Dalam pembelajaran tuntas terdapat dua layanan yang diberikan pada siswa, yaitu layanan program remedial dan layanan program pengayaan. Pertama, layanan program remedial dilaksanakan dengan cara: (a) memberikan bimbingan secara khusus dan perorangan bagi siswa yang mengalami kesulitan, (b) memberikan tugas-tugas atau perlakuan secara khusus yang sifatnya penyederhanaan dari pelaksanaan pembelajaran reguler, (c) materi program remedial diberikan pada Kompetensi Dasar (KD) yang  belum dikuasai siswa, (d) pelaksanaan program remedial dilakukan setelah siswa mengikuti tes/ujian semester.

Kedua, layanan program pengayaan dilaksanakan dengan cara: (a) memberikan bacaan tambahan atau diskusi yang bertujuan untuk memperluas wawasan yang masih dalam lingkup seputar KD yang dipelajari, (b) pemberian tugas untuk melakukan analisis gambar, model, grafik, bacaan/paragraf dan lainnya, (c) memberikan soal-aoal latihan tambahan yang bersifat pengayaan, (d) membantu guru dalam rangka membimbing teman-temannya yang belum mencapai ketuntasan, (e) materi pengayaan diberikan sesuai dengan KD yang dipelajari, (f) program pengayaan dilaksanakan setelah mengikuti tes/ujian KD tertentu atau tes/ujian semester. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tuntas menjadi dasar dari konsep ketuntasan belajar. Sehingga guru diharapkan menerapkan pembelajaran tuntas dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan pembelajaran tuntas, siswa dapat mencapai kriteria ketuntasan belajar yang ideal.

Ketuntasan belajar merupakan salah satu muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Standar ketuntasan belajar siswa ditentukan dari hasil prosentase penguasaan siswa pada Kompetensi Dasar dalam suatu materi tertentu. Kriteria ketuntasan belajar setiap Kompetensi Dasar berkisar antara 0-100%. Menurut Departemen Pendidikan Nasional, idealnya untuk masing-masing indikator mencapai 75%. Sekolah dapat menetapkan sendiri kriteria ketuntasan belajar sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, sekolah perlu menetapkan kriteria ketuntasan belajar dan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara berkelanjutan sampai mendekati ideal.

 

 

Comments

apakah ada keterkaitan antara mastery learning dengan penggunaan modol pembeklajaran? Sejauh mana pengunaan suatu modul dapat mendukung mastery learning? Mohon ditanggapi by email

Posted by: maya | 02/08/2009

tolong juga dikirimi ptk tentang problem posing dan team teaching yang lengkap

Posted by: efendi | 03/16/2009

Model pembelajaran yg digunakan guru dalam menyelenggarakan pembelajaran di kelas sangat besar pengaruhnya terhadap tingkat ketuntasan belajar siswa/mastery learning. Dengan menggunakan model pembelajaran tertentu, setidak-tidaknya menuntut kesiapan guru dalam merancang media, materi, dan model belajar seperti apa yang akan digunakannya. Dengan demikian, kesiapan guru dalam menyelenggarakan pembelajaran di kelas amat berpengaruh terhadap ketuntasan belajar siswa. Ok, selamat malam Mba Maya.

Posted by: Sri Nurhayati, S Pd | 03/26/2009

bagaimana menghitung nilai akhir siswa yang ikut remedial? nilai mana yang diambil? nilai awal ataukah nilai hasil remedial? mohon dijelaskan juga alasannya. saya mengalami kebingungan...terima kasih atas jawabannya.

Posted by: dee | 06/11/2009

bagaimana menghitung nilai akhir siswa yang ikut remedial? nilai mana yang diambil? nilai awal ataukah nilai hasil remedial? mohon dijelaskan juga alasannya. saya mengalami kebingungan...terima kasih atas jawabannya.

Posted by: dee | 06/11/2009

makasih atas infonya wah dah ngebantu bangeeeet tolong kunjungi blog kami ya.......

Posted by: SDN Leuwimunding III | 06/13/2009

Kalau seorang guru ingin menetapkan kkm untuk bidang studi dan kd apakah yang harus diperhatikan ? mohon di buat tulisan mengenai ini di rubrik ini.

Posted by: yanti elvita | 06/26/2009

Post a comment