01/11/2009
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS BAHASA INDONESIA
Penerapan Adaptasi dan Modifikasi Model Pembelajaran Kemp & Instructional Development Institute (IDI) dalam Pembelajaran Kompetensi berbicara dengan Pendekatan Bercerita/Mendongeng untuk Meningkatkan Hasil Belajar
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dari pengalaman bertahun-tahun melaksanakan tugas profesi, dan menghadapi beragam tipe siswa per kelas, seorang guru dapat mereka-reka dan memformulasi cara yang pas dalam mengajarkan suatu materi pelajaran, bahkan mereka dapat menemukan cara yang lebih baik, lebih efektif, lebih cepat, lebih taktis, atau lebih bermakna dalam proses pembelajaran suatu materi pelajaran.
Penemuan yang individual ini, tentu akan mempermudah pelaksanaan tugasnya dan lebih menjamin hasil belajar yang memuaskan pada para siswa. Pengalaman berhasil dengan satu cara, pendekatan, atau teknik pengajaran, bahkan dapat menjadi formula yang bisa dibagi kepada rekan seprofesi pada bidang keilmuan yang sama, baik di satu lembaga pendidikan, antar sekolah, maupun antar daerah dan bahkan antar negara. Singkat cerita, sesepele apapun sebuah inovasi pengajaran, hal itu menandakan bahwa seorang guru berdenyut, sebuah kelas bernafas, dan lokomotif pendidikan–meski mungkin perlahan, tetap bergerak ke tujuan. Pendidikan dan pembelajaran bukan sebuah aktifitas yang stagnan.
Peneliti sebagai seorang guru, dalam melaksanakan tugas profesi merasakan pula cobaan dan kesulitan yang sama seperti yang dialami rekan-rekan seprofesi: kondisi sekolah dan sarana yang menggenaskan, siswa-siswa yang menggemaskan datang dari latarbelakang yang mencemaskan, atau income sering melemaskan itu. Semua sudah kita hadapi dengan lapang hati.
Yang sering kita abaikan untuk dihadapi dengan sedikit lebih serius adalah kelas, siswa, dan bidang studi kita sendiri. Kesulitan dan tantangan mendasar dalam tugas profesi seorang guru di antaranya ada di sana; di antara empat dinding dan atap kelas kita.
Di malam hari, seorang guru memikirkan apa yang dia ajarkan besaok, dan bagaimana cara agar proses pembelajaran berjalan lancar sehingga mencapai tujuan. Persiapan materi dan bahan pun dilakukan. Dia juga mempersiapkan strategi dan teknik yang akan diterapkan besok di kelasnya.
Pembelajaran berarti pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru. Pembelajaran mencakup pemilihan, penyusunan, dan penyampaian informasi dalam suatu lingkungan yang sesuai.
Dalam proses pembelajaran tercakup juga pengajaran. Pengajaran adalah susunan informasi dan lingkungan untuk memfasilitasi pembelajaran. Lingkungan tidak hanya tempat yang digunakan saat pengajaran berlangsung tetapi juga metode, media, dan peralatan yang dibutuhkan untuk menyampaikan informasi dan bimbingan terhadap proses belajar siswa. Jika pembelajaran bertumpu pada kegiatan bagaimana siswa belajar, maka pengajaran bertumpu pada kegiatan bagaimana guru mengajar.
Peranan guru sangat penting dalam perencanaan dan proses pembelajaran. Istilah proses pembelajaran disebut juga kegiatan instruksional. Langkah-langkah kegiatan ini menyangkut bagaimana penyajian materi pelajaran supaya siswa dapat mencapai tujuan instruksional yang sudah dirumuskan. Jadi, kegiatan instruksional dimulai setelah guru merumuskan tujuan instruksional. Kemungkinan pertanyaan yang muncul setelah merumuskan tujuan instruksional adalah: Apa harus dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran esok?
R.D. Conners (1980) mengidentifikasikan tiga tahap tugas guru, yang meliputi:
1) Sebelum pengajaran (meliputi program satuan pelajaran, perencanaan program mengajar);
2) Pengajaran, yaitu berlangsungnya interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa baik secara individu maupun kelompok;
3) Sesudah pengajaran, antara lan menilai kinerja siswa, mengevaluasi kembali pelaksanaan proses belajar-mengajar yang telah berlangsung.
Wilbur Schramm (1984) mengemukakan bahwa kegiatan instruksional ialah semua yang harus dikerjakan guru setelah ia merumuskan tujuan instruksional dengan jelas dan menentukan titik permulaan siswa pada saat pelajaran dimulai.
Semua yang disebutkan tadi merupakan tantangan harian seorang guru bidang studi dalam pelaksanaan tugasnya. Mutu pendidikan secara prinsip sebenarnya bermula dari seberapa serius seorang guru mempersiapkan hal ini. Akan tetapi, sejumlah faktor penghambat dan penyulit selalu saja ada pada proses tersebut.
Sebagai seorang guru bidang studi Bahasa Indonesia, kadang peneliti mengalami betapa sulitnya menaklukan satu kompetensi dasar dari materi pelajaran yang harus diajarkan. Contohnya, meski tak satupun siswa yang bisu sungguhan, akan tetapi membuat siswa menguasai satu dari empat kompetensi dasar berbahasa, yaitu berbicara betapa sukarnya.
Dalam situasi formal di sekolah, komunikasi di dalam kelas sering hanya berlangsung satu arah; guru mengoceh dan para siswa mencatat atau menjadi pendengar pasif. Ruang-ruang kelas kita seperti ruang interogasi. Pantas kiranya, siswa-siswa kita lemah pada sejumlah kompetensi dasar seperti, menulis, membaca, berbicara, dan berhitung, karena rupanya mereka lebih banyak mengandalkan indera dengarnya.
Cukup mengherankan, diluar kelas--misalnya pada jam istirahat, terdengar para siswa “berkicau” sedemikian gempita. Akan tetapi, ketika jam pelajaran berbicara, burung-burung itu seperti tercekat di tenggorokan masing-masing siswa. Ada apakah gerangan?
Jalaluddin Rakhmat dalam Retorika Modern Pendekatan Praktis (2000:15) mengungkap bahwa dewasa ini retorika, baik sebagai public speaking, oral communication, atau speech communication, diajarkan dan diteliti secara ilmiah di lingkungan akademis. Dr. Charles Hurst mengadakan penelitian tentang pengaruh speech course terhadap prestasi akademik mahasiswa. Hasilnya membuktikan bahwa ada pengaruh cukup berarti. Mahasiswa yang memperoleh pelajaran berbicara (speech group) mendapat skor yang lebih tinggi dalam tes belajar dan berpikir, lebih terampil dalam studi dan lebih baik dalam prestasi akademiknya dibandingkan mahasiswa yang tidak memperoleh pelajaran itu. Hurst menyimpulkan:
Data penelitian ini menunjukkan dengan jelas bahwa kuliah speech tingkat dasar adalah agen synthesa, yang memberikan dasar skematis bagi mahasiswa untuk berpikir lebih teratur dan memperoleh penguasaan yang lebih baik terhadap aneka fenomena yang membentuk kepribadian.
............................. dst hub. via sms di 081913127080
04:24 Permalink | Comments (3) | Email this | Tags: penelitian pendidikan


Comments
saya sangat tertarik dengan PTK yang dicantumkan disini semoga dapat membantu kami guru-guru di daerah dalam pembuatan karya ilmiah/penelitian tindakan kelas. Karena selama ini kami sangat kekurangan dalam hal pembuatan karya ilmiah tindakan kelas semoga dengan adanya contoh-contoh dapat membantu kami. Terima kasih
Posted by: Drs.Zainuddin | 02/25/2009
tolong dong kirim contoh ptk untuk smp kelas 8 bahasa indinesia, trma kasih
Posted by: rustanto mujo nugroho | 06/22/2009
terima kasih...
Posted by: MAKSI | 12/20/2009
Post a comment