12/31/2008
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK ) BAHASA INDONESIA
CONTOH KARYA TULIS ILMIAH (KTI) :
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK ) BAHASA INDONESIA
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN SISWA KELAS IX C SMP NEGERI DENGAN METODE BARAKU
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMP/MTs dalam ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra. Kedua kemampuan itu meliputi empat aspek, yaitu aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempatnya terintegrasi dalam pembelajaran.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa fungsi utama bahasa adalah sebabagai sarana komunikasi. Bahasa dipergunakan sebagai alat berkomunikasi antarpenutur untuk berbagai keperluan dan situasi pemakaian. Sementara itu, pembelajaran sastra memiliki fungsi utama sebagai penghalus budi, peningkatan kepekaan, rasa kemanusiaan, dan kepedulian sosial, penumbuhan apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, imaginasi dan ekspresi secara kreatif dan konstruktif, baik secara lisan maupun tertulis. Melalui sastra siswa diajak untuk memahami, menikmati, dan menghayati karya sastra. Dengan mempelajari kesastraan, budi pekerti, kepekaan, rasa kemanusiaan, dan kepedulian siswa akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Tidak hanya itu saja, siswa juga mampu mengapresiasi karya sastra dalam arti menghasilkan produk karya sastra.
Hal senada dikatakan oleh Rahmanto (1988: 6 ), bahwa pembelajaran apresiasi sastra membantu pendidikan secara utuh. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa pembelajaran apresiasi sastra memiliki empat manfaat, yaitu (1) membantu keterampilan berbahasa, (2) meningkatkan pengetahuan budaya, (3) mengembangkan cipta dan rasa, (4) menunjang pembentukan watak.
Hal itu bisa dipahami bahwa jika pembelajaran sastra disampaikan dengan metode yang tepat, kemanfaatan pembelajaran sastra akan dirasakan oleh para siswa. Nilai-nilai serta pesan moral yang ada dalam sastra akan dihayati para siswa yang selanjutnya akan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat. Pada tahap akhir, melalui pembelajaran sastra yang tepat kreativitas siswa akan terbina sehingga mampu menghasilkan berbagai produk sastra, salah satunya bentuk cerpen.
Kenyataannya, pembelajaran apresiasi sastra selama ini, khususnya pembelajaran menulis cerpen di kelas IX, termasuk kelas IX C, masih menggunakan metode yang tradisional. Seringkali pembelajaran masih didominasi guru dengan metode ceramah yang berlebihan. Para siswa dijejali dengan pengertian cerpen, ciri-ciri cerpen, unsur-unsur pembangun cerpen, dan sebagainya. Baru kemudian siswa disuruh menulis cerpen berdasarkan teori yang telah disampaikan guru. Para siswa tidak dilatih untuk merumuskan pengertian dan cirri-ciri cerpen secara mandiri. Para siswa juga tidak didiajak, apalagi dibimbing untuk menemukan unsure-unsur pembangun cerpen berdasarkan cerpen yang dibacanya. Lebih parah lagi, bila hasil karya puisi siswa yang terkumpul hanya sekedar dinilai belum diberi umpan balik oleh guru, apalagi dipajang atau didokumentasi sebagai sebuah antologi cerpen.
Apabila metode yang digunakan masih monoton, jelas tidak membuat siswa tertarik dan bersemangat mengikuti pembelajaran menulis cerpen. Dengan demikian, wajar saja kalau siswa sering mengalami kebingungan tentang bagaimana menulis cerpen. Wajar pula kalau cerpen yang dihasilkan siswa jauh dari harapan guru. Para siswa hanya menulis cerpen sebisanya saja. Bahkan, bisa jadi cerpen yang ditulis tidak selesai karena merasa kehabisan bahan cerita. Akibatnya, siswa pun kurang bangga terhadap hasil karya pribadinya. Hal ini terbukti saat siswa mengumpulkan karyanya, hampir seluruh siswa selalu menaruh karyanya di bawah karya temannya agar tidak dibaca oleh guru atau pun temannya pada saat itu.
Agar pembelajaran apresiasi sastra, khususnya menulis cerpen menarik perlu diterapkan metode yang tepat sesuai tuntutan kurikulum 2006 (KTSP). Salah satu metode tersebut adalah metode BARAKU.
B. Pembatasan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, masalah dalam penelitian ini adalah upaya meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas IX C SMPN 1 Cangkringan dengan metode yang mampu menghasilkan karya sastra secara optimal serta meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran menulis cerpen.
C. Cara Pemecahan Masalah
Kurang berkualitasnya hasil karya cerpen siswa serta kurang termotivasinya para siswa kelas IX C SMPN 1 Cangkringan dala pembelajaran menulis cerpen, kemungkinan disebabkan oleh adanya beberapa faktor, di antaranya (1) lemahnya metode yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen, (2) kurang terpupuknya motivasi siswa dalam pembelajaran menulis cerpen.
Untuk mengetahui secara pasti prestasi pembelajaran menulis cerpen, maka dilakukan kegiatan prasurvei dengan menganalisis hasil kerja siswa sebelum siswa diberi tindakan. Berdasarkan hasil prasurvei tersebut kemudian dilakukan analisis awal tindakan. Selanjutnya ditentukan frekuensi dan bentuk tindakan yang akan dilaksanakan. Dalam penelitian tindakan ini digunakan 3 siklus, siklus II merupakan hasil refleksi siklus I, siklus III merupakan hasil refleksi siklus II. Waktu pelaksanaan tindakan adalah bulan Agustus, September dan Oktober 2007.
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan :
1. meningkatkan kemampuan para siswa kelas IX C dalam menulis cerpen;
2. meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran menulis cerpen.
E. Manfaat Penelitian
1. Untuk Siswa
a. Kemampuan siswa dalam menulis cerpen semakin meningkat.
b. Motivasi belajar siswa dalam menulis cerpen semakin meningkat.
2. Untuk Guru
a. Guru dapat menentukan pendekatan pembelajaran menulis cerpen secara tepat.
b. Guru menjadi termotivasi untuk melaksanakan proses belajar mengajar yang lebih variatif dan inovatif.
3. Untuk Sekolah
a. Sekolah mendapatkan gambaran tentang pembelajaran menulis cerpen yang benar-benar bermanfaat bagi siswa sekaligus menyenangkan.
b. Sekolah diharapkan semakin termotivasi untuk menyediakan sarana prasarana sebagai media pembelajaran.
.... dst.
(Selengkapnya hub. via SMS : 081913127080)
05:57 Permalink | Comments (12) | Email this | Tags: penelitian pendidikan
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK ) BIOLOGI
CONTOH KARYA TULIS ILMIAH (KTI) :
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK ) BIOLOGI
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION DENGAN PENDEKATAN SALINGTEMAS (SAINS-LINGKUNGAN-TEKNOLOGI-MASYARAKAT) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KERJA ILMIAH DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF BIOLOGI SISWA KELAS X SMA NEGERI
ABSTRAK
XXX, . 2008. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation dengan Pendekatan Salingtemas (Sains-Lingkungan-Teknologi-Masyarakat) dalam Meningkatkan Kemampuan Kerja Ilmiah dan Hasil Belajar Kognitif Biologi Siswa Kelas X SMA Negeri .
Kata Kunci: model pembelajaran kooperatif Group Investigation, pendekatan Sains-Lingkungan-Teknologi-Masyarakat, kerja ilmiah, hasil belajar kognitif
Di dalam standar isi tingkat SMA/MA/SMALB tercantum standar kompetensi yang berkaitan dengan pembelajaran yang menuntut siswa untuk peka terhadap teknologi, permasalahan yang dapat timbul di sekitarnya misalnya permasalahan lingkungan. Pendekatan Salingtemas menjadikan siswa lebih aktif di dalam pembelajaran yang dilaksanakan dan tercakup juga adanya pemecahan masalah terutama masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari melalui kerja ilmiah. Model kooperatif GI sangat sesuai untuk melatih dan meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan hasil belajar siswa. Kerja ilmiah sangat dibutuhkan dalam pelajaran IPA khususnya biologi. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMA Negeri 1 Lawang, kemampuan kerja ilmiah masih perlu ditingkatkan sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar kognitif siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemam-puan kerja ilmiah dan hasil belajar kognitif biologi siswa melalui penerapan pen-dekatan Salingtemas dengan model kooperatif GI. Peran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai guru.
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas dengan subjek siswa kelas X-9 SMA Negeri . Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri selama bulan Mei hingga Juni. Penelitian tindakan kelas dilakukan selama 2 siklus. Sebelum dilaksanakan siklus 1 terlebih dulu dilakukan tahap observasi awal dan refleksi awal. Siklus 1 terdiri dari, perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi, sedangkan siklus 2 terdiri dari tahap perenca-naan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data penelitian yang dikum-pulkan adalah kemampuan kerja ilmiah yang berasal dari pengamatan langsung, laporan kelompok dan jurnal kegiatan siswa serta data hasil belajar kognitif siswa yang berasal dari hasil pascates yang dilaksanakan di setiap akhir siklus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan Sains-Ling-kungan-Teknologi-Masyarakat dengan model pembelajaran kooperatif Group Investigation dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan hasil belajar kognitif siswa. Peningkatan kemampuan kerja ilmiah terjadi pada komponen “melaksanakan penyelidikan ilmiah” sebesar 13,8 %, “mengkomuni-kasikan hasil penyelidikan ilmiah” sebesar 8,1%, dan “bersikap ilmiah” sebesar 3,4 %, sedang-kan komponen “merencanakan penyelidikan ilmiah” tidak terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II. Peningkatan pencapaian rata-rata kerja ilmiah klasikal sebesar 6,3 %. Hasil belajar kognitif mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu sebesar 59%.
Berdasarkan hasil penelitian, penerapan model pembelajaran kooperatif GI (Group Investigation) dengan pendekatan Salingtemas (Sains-Lingkungan-Teknologi-Masyarakat) dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan hasil belajar kognitif siswa kelas X SMA Negeri dalam materi limbah dan daur ulangnya.
.... dst.
(Selengkapnya hub. via SMS : 081913127080)
05:51 Posted in Laporan PTK | Permalink | Comments (9) | Email this | Tags: laporan ptk
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS BAHASA INGGRIS
CONTOH KARYA TULIS ILMIAH (KTI) :
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK ) BAHASA INGGRIS
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBAHASA MEMBACA SISWA KELAS VII B SMP NEGERI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PBL TEKNIK BERCERITA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Usaha peningkatan sumber daya manusia sedang marak dilakukan di negara ini. Salah satu perwujudannya adalah melalui peningkatan kualitas pendidikan yang diusahakan oleh pemerintah sedemikian rupa sehingga terjadi penyempurnaan dan perubahan kurikulum beberapa kali.
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Dengan demikian, implementasi kurikulum dapat menumbuhkan tanggung jawab dan partisipasi peserta didik untuk belajar menilai dan mempengaruhi kebijakan umum (public policy), serta memberanikan diri berperan serta dalam berbagai kegiatan, baik di sekolah maupun di masyarakat.
Guru sebagai fasilitator seperti yang diharapkan oleh KBK dituntut untuk dapat mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang kondusif sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan sesuai yang diharapkan KBK. Oleh karenanya, guru dituntut pula untuk lebih professional, inovatif, perpsektif dan pro aktif dalam melaksanakan tugas pembelajaran.
Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional memerankan bagian yang sangat penting. Selain digunakan sebagai media untuk berkomunikasi juga digunakan untuk menguasai teknologi yang perkembangannya menuntut kita untuk mempelajarinya lebih dalam. Pembelajaran bahasa Inggris harus mencakup 4 ketrampilan berbahasa yaitu : membaca (reading), menyimak (listening), berbicara (speaking), dan menulis (writing) secara terpadu. Membaca adalah salah satu ketrampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa untuk memahami isi suatu wacana.
B. Identifikasi Masalah
Pembelajaran secara konvensional (teacher centered situation) tidak dapat mengajak siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran, yang diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan mudah. Oleh karena itu, guru hendaknya merubah kegiatan pembelajaran menjadi modern (students centered situation) yang dapat meningkatkan minat siswa untuk belajar menemukan sendiri, bekerjasama dan mengkomunikasikan hasil belajarnya serta membuat siswa semakin aktif dan kooperatif.
Membaca (reading) adalah salah satu ketrampilan dari 4 ketrampilan berbahasa yang harus dikuasai dalam pengajaran bahasa Inggris. Namun yang terjadi didalam kelas ketika diberikan kegiatan membaca teks dan siswa diminta untuk memahami isi teks melalui pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh guru sangatlah jauh dari yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa sebab antara lain; (1) Teks yang diberikan adalah teks bahasa Inggris yang merupakan bahasa asing di Indonesia, sehingga pemahaman siswa akan kata perkata (Vocabulary mastery) yang digunakan untuk mengetahui isi bacaan sangatlah jauh dari yang diharapkan. (2) Karena vocabulary mastery pada siswa sangat minim membuat siswa tidak dapat memahami secara langsung informasi-informasi baik yang tersurat maupun yang tersirat didalam bacaan. (3) Dengan hanya membaca teks siswa tidak merasa senang sebagaimana tujuan pada kegiatan membaca.
Ada beberapa hal yang terjadi pada siswa sehubungan dengan 3 alasan tersebut diantaranya adalah; siswa tidak membaca teks secara keseluruhan, siswa tidak mau berusaha mencari arti didalam kamus, siswa tidak menjawab pertanyaan baik mengenai informasi yang tersirat maupun tersurat dengan tepat namun mereka mengambil jawaban hanya dengan menjodohkan kalimat yang sama tanpa memahami maksudnya. Jika hal ini dibiarkan berlarut maka dikhawatirkan keinginan siswa untuk meningkatkan kemampuan penguasaan kosa kata (vocabulary mastery) akan berkurang dan mungkin hilang, siswa tidak mau berusaha untuk menemukan informasi yang ada didalam bacaan, kerjasama antar kelompok tidak bisa maksimal karena kegiatan yang dilakukan siswa tidak memotivasi siswa untuk menyelesaikan bersama dengan rasa senang, keadaan kelas yang teacher-centered membuat komunikasi didalam kelas sangat tidak aktif dan membuat siswa takut atau malu bertanya tentang permasalahan yang dihadapinya didalam kegiatan membaca. Hal ini juga berpengaruh pada pendekatan pada siswa untuk selalu suka belajar.
Gejala-gejala tersebut dapat terlihat dari observasi yang dilakukan oleh peneliti bersama teman kolaborator pada saat pra siklus yang menjadikan landasan bagi peneliti untuk melaksanakan siklus-siklus berikutnya guna mencapai tujuan pembelajaran. Gambaran hasil kegiatan Pra siklus adalah sebagai berikut:
No Keterangan Bagus Sedang Kurang
1 Siswa aktif membaca Teks v
2 Siswa menjawab pertanyaan tentang pemahaman isi bacaan v
3 Siswa Memahami Kosa kata v
4 Siswa menyelesaikan tugas v
5 Siswa aktif mencari kosa kata dikamus v
6 Siswa aktif bertanya kepada teman atau guru v
7 Siswa Memahami pengucapan (pronunciation) v
8 Siswa merasa senang dengan proses pembelajaran v
Tabel 1 : Hasil kegiatan pra siklus
Sementara hasil evaluasi dari kegiatan pra siklus ini sangat tidak memuaskan dan tergambar sebagai berikut:
No NAMA KELOMPOK NILAI
1. KELOMPOK 1 55
2. KELOMPOK 2 55
3. KELOMPOK 3 60
4. KELOMPOK 4 60
5. KELOMPOK 5 50
6. KELOMPOK 6 50
RATA-RATA 55
Tabel 2 : Hasil evaluasi pra siklus
Penerapan Project Based learning (PBL), yang merupakan pembelajaran yang terfokus pada konsep inti dan prinsip displin, melibatkan siswa di dalam pemecahan masalah, penyelidikan dan tugas-tugas lain yang bermanfaat, membuat siswa bekerja secara otonomi untuk membentuk pengetahuan mereka dan menghasilkan suatu produk tertentu, dapat dilakukan melalui berbagai media dan teknik salah satunya adalah dengan bercerita.
C. Rumusan Masalah
Permasalahan yang timbul dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah kesulitan siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran, terutama dalam pencapaian ketrampilan berbahasa membaca.
Adapun rumusan masalahnya adalah:
1. Bagaimanakah aktivitas siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris melalui model PBL dengan menggunakan teknik bercerita?
2. Bagaimanakah hasil pencapaian ketrampilan berbahasa membaca melalui model PBL dengan menggunakan teknik bercerita?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan untuk mencapai tujuan sebagai berikut:
1. Mendiskripsikan aktivitas siswa dalam pencapaian ketrampilan berbahasa membaca pada pembelajaran bahasa Inggris melalui model PBL dengan menggunakan teknik bercerita.
2. Mendiskripsikan hasil pencapaian ketrampilan berbahasa membaca melalui model PBL dengan menggunakan teknik bercerita
E. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini akan memberikan manfaat terutama bagi guru untuk:
1. Memberikan inspirasi kegiatan yang menyenangkan yang dapat dilakukan dalam pembelajaran bahasa Inggris.
2. Membuktikan pencapaian ketrampilan berbahasa membaca yang dapat dicapai dengan teknik bercerita.
3. Meningkatkan efektifitas pembelajaran bahasa Inggris.
.... dst.
(Selengkapnya hub. via SMS : 081913127080)
04:41 Permalink | Comments (135) | Email this | Tags: penelitian pendidikan

